Gedung Kesenian Jakarta adalah gedung pertunjukan peninggalan Belanda di Jakarta. Bangunan tua hingga saat ini masih berdiri kokoh di Jalan Gedung Kesenian No.1 tepatnya di Jalan Segara, Pasar Baru, Kecamatan Sawah Besar, Jakarta Pusat. Bangunan berwarna putih ini menjadi tempat berkumpulnya seniman Nusantara dalam menampilkan hasil karya seninya, seperti teater, drama, sastra, film, dan sebagainya. Sejak masa pemerintahan kolonial, kegiatan kesenian tidak begitu mendapat banyak perhatian pemerintah kolonial, terlebih kesenian tradisional masyarakat pribumi. Baca juga: Arsitektur Gedung Perpustakaan Nasional, Multifungsi dan Modern Sejarah Gedung Kesenian Jakarta Melansir Ensiklopedia Sejarah Indonesia oleh Kemdikbud, gedung kesenian dibangun pada 27 Oktober 1814 saat…
Author: gravitarchi
Masjid Sunan Ampel dibangun oleh salah satu Wali Songo saat menyebarkan agama islam di tanah Jawa. Masjid ini berlokasi di Jalan Masjid Ampel No.53, Kelurahan Ampel, Kecamatan Semampir, Kota Surabaya. Sejak tahun 1972, masjid ini telah ditetapkan oleh Pemkot Surabaya sebagai tempat wisata religi. Masjid ini dianggap sebagai titik awal penyebaran islam di Jawa seiring berdirinya Kesultanan Demak. Gaya arsitektur masjid menggabungkan style jawa kuno dengan nuansa Arab islami. Selain itu, masjid ini juga masih dipengaruhi oleh akulturasi budaya lokal Hindu-Buddha. Baca juga: Masjid Baiturrahman, Berdiri Kokoh Saat Tsunami Aceh Menerjang Sejarah Masjid Sunan Ampel Masjid Sunan Ampel dibangun pada…
Gedung Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) punya desain arsitektur yang multifungsi dan modern untuk memenuhi segala kebutuhan pengunjung. Awalnya, gedung perpustakaan ini berada di tiga lokasi berbeda hingga tahun 1987. Tiga lokasi tersebut terletak di Jalan Merdeka Selatan, Jalan Merdeka Barat, dan Jalan Imam Bonjol. Lokasi Perpusnas sekarang berada di Jalan Medan Merdeka Selatan Nomor 11, Jakarta Pusat dan sebagian besar kantornya di Jalan Salemba Raya Nomor 28A. Gedung fasilitas baru ini menelan anggaran sebesar Rp465,2 miliar. Berdasarkan UU No. 43 Tahun 2007, Perpusnas menjadi lembaga non kementerian. Pada tanggal 14 September 2017, Presiden Joko Widodo meresmikan gedung tersebut. Baca…
Pembangunan Kantor Sekretariat Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Provinsi Jawa Timur akhirnya rampung dan diresmikan pada 13 Juli 2024. Pembangunan kantor ini sebenarnya sudah direncanakan oleh seluruh anggota sejak lama, bahkan sejak awal dikukuhkan oleh Pengurus Nasional Ikatan Arsitek Indonesia (PN-IAI). Rencana pembangunan kantor ini sebenarnya sudah ada sejak tahun 2000-an, namun baru digarap secara serius dalam 6 tahun terakhir. Sebagai bentuk rasa syukur atas selesainya pembangunan kantor baru, IAI Jatim mengadakan serangkaian acara yang dihadiri oleh masyarakat umum, anggota IAI Jatim, hingga sejumlah tokoh penting. Baca juga: 6 Nominasi Proyek Terpilih Stirling Prize 2024 Rangkain Acara Peresmian Kantor IAI Jawa…
Pagoda Avalokitesvara Buddhagaya Watugong atau biasa disebut Pagoda Watugong adalah tempat ibadah umat buddha tertinggi di Indonesia. Ketinggiannya mencapai 45 meter. Pagoda atau vihara ini berada di Jalan Perintis Kemerdekaan, Pudakpayung, Kec. Banyumaik, Semarang tepatnya di depan Markas Kodam IV Diponegoro, Watugong, Semarang. Vihara Buddhagaya Watugong memiliki sejarah yang panjang hingga akhirnya bisa berdiri megah seperti sekarang ini. Saat memasuki bangunan ini, kita akan langsung disuguhkan oleh arsitektur yang megah dan menawan yang dikelilingi oleh pepohonan hijau. Penasaran dengan desain arsitekturnya? Simak dalam pembahasan berikut. Baca juga: Masjid Baiturrahman, Berdiri Kokoh Saat Tsunami Aceh Menerjang Arsitektur Pagoda Watugong Struktur bangunan…
Masjid Baiturrahman merupakan landmark kebanggaan Banda Aceh. Masjid ini didirikan pada masa Kesultanan Aceh Darussalam di bawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Meski demikian, ada pula yang mempercayai bahwa masjid ini sebelumnya sudah dibangun pada tahun 1292 oleh Sultan Mahmudsyah. Masjid ini pernah dibakar oleh pihak Belanda pada tahun 1873. Hal tersebut menyulut kemarahan rakyat Aceh dan meningkatkan perjuangan mereka dalam melawan Belanda. Untuk meredam kemarahan mereka, kolonial Belanda diwakili oleh Gubernur Jenderal van Lansnerge akhirnya membangun kembali masjid ini. Baca juga: Mengulik Arsitektur Masjid Istiqlal, Terbesar di Asia Tenggara Peletakan batu pertama dilakukan oleh Tengku Qadhi Malikul Hadi pada…
Istana Merdeka berlokasi di Jalan Merdeka Utara, Jakarta dan menghadap langsung ke arah Monumen Nasional (Monas). Istana ini memiliki luas sekitar 2.400 meter persegi, berada satu kompleks dengan Istana Negara dan Bina Graha. Sebagai salah satu istana kepresidenan yang ada di Indonesia, bangunan ini menjadi bangunan pertama diadakannya peringatan Hari kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1950. Presiden Soekarno, Abdurrahman Wahid, dan Joko Widodo adalah tiga Presiden RI yang pernah tinggal di istana ini sebelum pindah ke Istana Bogor. Baca juga: Istana Bogor, Perpaduan Gaya Arsitektur Eropa dengan Unsur Tropis Sejarah Singkat Istana Merdeka Istana Merdeka pertama kali dibangun pada…
Gedung Merdeka pertama kali dibangun pada tahun 1895 sebagai bangunan Societeit Concordia atau tempat rekreasi dan interaksi sosial sekelompok masyarakat Belanda yang saat itu menduduki wilayah Bandung dan sekitarnya. Gedung ini menjadi ikon rasisme, karena Belanda melarang keras anjing dan warga pribumi untuk masuk ke dalam area gedung. Pada tahun 1926, dua arsitek Belanda sekaligus guru besar di Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang ITB) bernama Van Galen Last dan C.P Wolff Schoemaker melakukan renovasi gedung ini dengan gaya arsitektur modern (art deco). Baca juga: Istana Bogor, Perpaduan Gaya Arsitektur Eropa dengan Unsur Tropis Gedung ini pernah beralih fungsi menjadi pusat…
Belanda membawa pengaruh arsitektur dalam pembangunan gedung maupun permukiman khas Eropa pada masa sebelum kemerdekaan. Meski demikian, kepribadian warga lokal dan iklim tropis di Indonesia turut memengaruhi adanya akulturasi dua budaya. Kebudayaan Indonesia yang berbaur dengan kebudayaan Eropa menghasilkan kebudayaan baru yang disebut kebudayaan Indis. Mengutip Jurnal Teknik Arsitektur berjudul “Daendels dan Perkembangan Arsitektur Hindia-Belanda Abad 19”, Handinoto menyatakan fase gaya arsitektur memiliki 3 lini masa, yaitu: Baca juga: Arsitektur Jam Gadang Bukittinggi, Landmark Sumatera Barat Benteng Vredeburg Mengadopsi Gaya Indische Empire Indische atau Hindia mencerminkan gaya bangunan Eropa. Gaya arsitektur ini merupakan perpaduan kebudayaan Eropa, Indonesia, dan beberapa dari…
Jam Gadang dalam bahasa Minangkabau memiliki arti “jam besar”. Menara yang menjulang tinggi di Bukittinggi ini merupakan bangunan populer yang memiliki nilai sejarah yang tinggi. Monumen ini merupakan bangunan peninggalan Hindia-Belanda yang saat ini menjadi salah satu landmark di Provinsi Sumatera Barat. Mau berkunjung kesini? Lokasinya berada di pusat kota Bukittinggi, tepatnya di tengah Taman Sabai Nan Aluh. Bukittinggi terkenal sebagai surganya wisata, mulai dari wisata alam, kuliner, hingga sejarah. Sejarah Singkat Jam Gadang Jam Gadang didirikan oleh Pemerintah Hindia-Belanda pada tahun 1926 atas perintah Ratu Wilhelmina. Menara jam ini merupakan hadiah untuk sekretaris (controleur) Kota Bukittinggi atau Fort de…
