Close Menu
  • Homes
  • News
  • Tips
  • Info
    • Info Arsitektur
    • Info Interior
    • Info Material
    • Info Struktur
  • Figure
  • Event
  • ID
  • ENG
Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram
gravitarchigravitarchi
Subscribe
  • Homes
  • News
  • Tips
  • Info
    • Info Arsitektur
    • Info Interior
    • Info Material
    • Info Struktur
  • Figure
  • Event
  • ID
  • ENG
gravitarchigravitarchi
Home » Sejarah Keraton Yogyakarta dan Style Arsitekturnya
Info

Sejarah Keraton Yogyakarta dan Style Arsitekturnya

gravitarchiBy gravitarchiAugust 24, 2024No Comments3 Mins Read
Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
keraton yogyakarta
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Keraton Yogyakarta adalah istana resmi Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang telah menjadi pusat kebudayaan dan pemerintahan di Yogyakarta selama ratusan tahun. Keraton Yogyakarta memiliki kaitan dengan hasil Perjanjian Giyanti dan dibangun pada masa kepemimpinan Sri Sultan Hamengkubuwono I pada tahun 1755.

Berdirinya bangunan ini menjadi simbol kedaulatan dan kekuasaan Kesultanan Yogyakarta. Tak hanya itu, bangunan ini juga menjadi saksi bisu perkembangan sejarah dan budaya di Yogyakarta. Lantas, seperti apa sejarah Keraton Yogyakarta?

Simak informasi lengkapnya dalam pembahasan berikut ini.

Sejarah Keraton Yogyakarta

Keraton Yogyakarta

Keraton Yogyakarta merupakan perpecahan dari Keraton Surakarta Hadiningrat dari Mataram Islam Surakarta atau Kerajaan Surakarta. Jadi, dinasti Mataram terbagi menjadi dua kerajaan, yaitu Kesultanan Yogyakarta dan Kesunanan Sarakarta. Pembagian wilayah tersebut tercantum dalam Perjanjian Jatisari pada 15 Februari 1755.

Baca juga: Gedung Kesenian Jakarta (Batavia), Elegansi Arsitektur Eropa

Sebelum menempati keraton, Sri Sultan Hamengkubuwono I berdiam di Pesanggrahan Ambar Ketawang (sekarang wilayah Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman). Sri Sultan Hamengkubuwono I beserta keluarga dan pengikutnya menempati Keraton Yogyakarta pada 7 Oktober 1756.

Mengutip Dinas Perpustakaan dan Arsip DIY, peristiwa tersebut ditandai dengan sengkalan memet “Dwi Naga Rasa Tunggal dan Dwi Naga Rasa Wani”. Hal tersebut mengacu pada penanggalan Tahun Jawa.

Setelah kemerdekaan Indonesia, Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII menyatakan bahwa wilayahnya yang bersifat kerajaan menjadi bagian dari Negara Republik Indonesia. Amanat ini dikeluarkan pada 5 September 1945.

Meski secara resmi telah menjadi bagian dari Republik Indonesia, namun hingga saat ini kompleks bangunan keraton masih berfungsi sebagai tempat tinggal sultan beserta rumah tangga istana yang masih menjalankan tradisi kesultanan.

Baca juga: Desain Rumah Futuristik Wonosobo, CASA LOKA

Arsitektur Keraton Yogyakarta

arsitektur keraton yogyakarta

Wilayah keseluruhan keraton memiliki luas sekitar 144 hektar, meliputi alun-alun Lor, alun-alun Kidul, seluruh area Baluwarti, gapura, dan kompleks Masjid Gedhe Yogyakarta.  Sementara inti keraton (kedhaton) punya luasan 13 hektar.

Keraton Yogyakarta memiliki 7 kompleks inti bangunan, yaitu:

  1. Balairung Utara (Siti Hinggil Ler)
  2. Balairung Selatan (Siti Hinggil Kidul)
  3. Kamandhungan Utara (Kamandhungan Ler)
  4. Kamandhungan Selatan (Kamandhungan Kidul)
  5. Sri Manganti
  6. Kedhaton
  7. Kamagangan

Arsitektur keranton dirancang langsung oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I dengan gaya arsitektur Jawa tradisional. Meski demikian, beberapa bagian bangunan tampak dipengaruhi style bangunan Tiongkok dan Eropa (Portugis dan Belanda). Secara umum, setiap kompleks utama terdiri dari halaman yang ditutupi pasir pantai selatan, bangunan utama dan pendamping, serta pohon tertentu. Kompleks satu dengan lainnya dipisahkan oleh dinding yang cukup tinggi.

Baca juga: Desain Interior Rumah Industrial Japandi, Bikin Betah di Rumah

Bangunan di tiap kompleks memiliki konstruksi joglo atau turunan konstruksinya. Setidaknya ada 3 jenis konstruksi joglo, yaitu bangsal (joglo terbuka), gedhong (gedung), dan tratag (kanopi atap dan tiang bambu) yang berkembang seiring perkembangan zaman.

Biasanya kolom bangunan berwarna hijau gelap atau hitam dengan ornamen berwarna hijau muda, kuning, merah, maupun emas. Dinding pemisah kompleks didominasi warna putih. Sementara untuk lantainya, menggunakan batu pualam putih atau ubin dengan motif yang khas.

Tingkat kerumitan ornamen Keraton Yogyakarta berkaitan dengan status jabatan. Misalnya, bangunan yang digunakan oleh Sultan memiliki detail ornamen yang lebih rumit dan menawan dibandingkan dengan jabatan atau kelas di bawahnya.

arsitektur keraton yogyakarta keraton yogyakarta kraton yogyakarta perjanjian giyanti perjanjian jatisari sejarah keraton ygyakarta wisata jogja
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
gravitarchi
  • Website

Related Posts

Shanghai Grand Opera House : Arsitektur Dinamis sebagai Ruang Publik Kota

April 22, 2026

Sagawa Art Museum : Arsitektur Reflektif di Tepi Danau karya Tadao Ando

April 20, 2026

Bernard Tschumi dan Ruang yang Terus Bergerak

April 14, 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Demo
Artikel Terbaru

Shanghai Grand Opera House : Arsitektur Dinamis sebagai Ruang Publik Kota

April 22, 2026

Sagawa Art Museum : Arsitektur Reflektif di Tepi Danau karya Tadao Ando

April 20, 2026

Menuju Jakal Design Week 2026 : Awal Kolaborasi di Koridor Jalan Kaliurang

April 15, 2026

Bernard Tschumi dan Ruang yang Terus Bergerak

April 14, 2026

Belajar Arsitektur Kontekstual dari Eko Prawoto

April 9, 2026

Solar Trees Marketplace — Arsitektur Pasar sebagai Lanskap oleh Koichi Takada

April 7, 2026

Bjarke Ingels dan Pragmatic Utopia : Ketika Arsitektur Menjadi Negosiasi Realitas

April 2, 2026
Demo
Demo
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
  • Kontak
  • Tentang Kami
© 2026 gravitarchi, Designed by gravitarchi.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.