Dirancang oleh Toyo Ito & Associates sebagai aula utama Expo 2025 Osaka, Shining Hat Expo Hall tampil melalui bentuk yang sederhana namun mudah dikenali. Di atas massa bangunan yang relatif tenang, sebuah cakram emas berukuran besar membentang dan menjadi elemen yang paling dominan secara visual.
Keputusan desain tersebut bukan sekadar upaya menciptakan ikon bagi Expo 2025. Menurut Toyo Ito, proyek ini berangkat dari gagasan hole in the sky. Gagasan tersebut diterjemahkan melalui kehadiran cakram emas sebagai elemen utama bangunan. Alih-alih mengandalkan bentuk yang kompleks, identitas Shining Hat dibangun melalui satu gestur arsitektural yang jelas dan mudah dikenali.
Baca Juga : Qapital by Kengo Kuma & Associates : Menafsir Lanskap Andes ke Dalam Arsitektur Vertikal
Aula Utama untuk Expo 2025 Osaka
Sebagai salah satu fasilitas utama Expo 2025, Shining Hat dirancang untuk menampung berbagai acara berskala besar, mulai dari seremoni resmi hingga pertunjukan budaya dan musik. Bangunan ini menjadi salah satu pusat aktivitas dalam kawasan Expo. Selain itu, ruang ini juga berfungsi sebagai tempat pertemuan bagi pengunjung dari berbagai negara.
Fungsi tersebut menuntut bangunan yang mampu mengakomodasi banyak orang. Pada saat yang sama, kualitas pengalaman ruang tetap menjadi perhatian utama. Karena itu, Toyo Ito memilih pendekatan yang tidak berfokus pada ekspresi bentuk yang berlebihan, melainkan pada penciptaan ruang pertunjukan yang jelas, fleksibel, dan mudah diakses.

Cakram Emas sebagai Identitas Bangunan
Sebagian besar aula pertunjukan membangun identitas melalui bentuk massa atau fasadnya. Sebaliknya, Shining Hat memilih pendekatan yang berbeda. Perhatian utama justru diarahkan pada cakram emas yang membentang di atas bangunan.
Elemen ini menjadi titik fokus visual bangunan. Selain itu, cakram emas juga berfungsi sebagai penanda yang mudah dikenali dari berbagai sudut kawasan Expo. Kehadirannya menciptakan siluet yang kuat tanpa memerlukan bentuk bangunan yang rumit.
Melalui pendekatan tersebut, Toyo Ito menunjukkan bagaimana satu elemen arsitektur dapat berperan lebih dari sekadar komponen bangunan. Cakram emas tidak hanya menaungi ruang di bawahnya, tetapi juga membentuk karakter dan identitas proyek secara keseluruhan.
Baca Juga : Memaknai Sintesis dalam Arsitektur : Refleksi dari ARCH:ID 2026

Gagasan Hole in the Sky
Toyo Ito menjelaskan desain Shining Hat melalui konsep hole in the sky. Gagasan ini tidak diwujudkan sebagai bukaan fisik pada bangunan, melainkan sebagai cara untuk membayangkan hubungan antara ruang pertunjukan dan keberadaan langit di atasnya.
Konsep tersebut diterjemahkan melalui bentuk cakram emas yang mendominasi bangunan. Dengan demikian, elemen ini menjadi pusat perhatian pengunjung. Dengan cara ini, elemen atap tidak hanya berfungsi sebagai pelindung, tetapi juga sebagai media yang membawa gagasan utama proyek.
Meski sederhana secara visual, pendekatan tersebut memberikan karakter yang berbeda dibanding banyak bangunan pertunjukan lainnya yang mengandalkan kompleksitas bentuk sebagai daya tarik utama.

Mengingat Kembali Expo Osaka 1970
Shining Hat merupakan bangunan baru yang dirancang khusus untuk Expo 2025. Meski demikian, proyek ini juga menghadirkan hubungan dengan sejarah Expo Osaka melalui penggunaan warna emas yang mengingatkan pada Tower of the Sun karya Tarō Okamoto, ikon dari Expo Osaka 1970.
Referensi tersebut tidak hadir secara literal. Sebaliknya, hubungan itu muncul sebagai pengingat akan sejarah Expo Osaka. Sebaliknya, ia muncul sebagai pengingat bahwa setiap Expo selalu berupaya menghadirkan simbol yang merepresentasikan semangat zamannya.
Jika Tower of the Sun menjadi simbol optimisme masa depan pada tahun 1970, maka Shining Hat menghadirkan simbol yang lebih tenang melalui kesederhanaan bentuk dan kejelasan gagasan desain.
Baca Juga : Rumah Tinggal Tropical Biophilic di Karawang dengan Inner Court dan Sunken Living
Sebuah Gestur yang Sederhana
Di tengah banyaknya bangunan yang berlomba tampil mencolok melalui bentuk yang kompleks, Shining Hat menunjukkan pendekatan yang berbeda. Identitas bangunan tidak dibangun melalui banyak elemen, melainkan melalui satu elemen yang dirancang secara konsisten: cakram emas yang membentang di atas ruang pertunjukan.
Melalui proyek ini, Toyo Ito memperlihatkan bahwa sebuah bangunan publik tidak selalu membutuhkan bentuk yang rumit untuk menciptakan karakter yang kuat. Terkadang, satu gagasan yang sederhana dan dieksekusi dengan jelas sudah cukup untuk membentuk identitas yang mudah dikenali sekaligus relevan dengan perannya sebagai simbol Expo 2025 Osaka.



