Author: gravitarchi

RM Pantjaran Sleman berlokasi di Jl. Wijaya Kusuma, Dero, Condongcatur. Rumah makan ini dirancang dengan pendekatan ruang terbuka yang memaksimalkan hubungan antara area makan dan lingkungan sekitar. Tapak disusun secara linear dari depan ke belakang, dengan urutan ruang yang jelas dan mudah dibaca oleh pengunjung sejak pertama masuk area. Baca Juga : Tiga by Kanca : Merancang Pengalaman Ruang melalui Arsitektur Slow Bar Tata Tapak dan Sirkulasi RM Pantjaran Sleman Area parkir ditempatkan di bagian depan tapak dan menggunakan lapisan batu kerikil. Dari area ini, sirkulasi pengunjung diarahkan langsung menuju area makan outdoor di sisi kiri tapak. Jalur masuk tidak…

Read More

Di Gang Akasia, Kwarasan, Sleman, Yogyakarta, berdiri sebuah coffee shop berukuran kecil yang menawarkan pengalaman arsitektur coffee shop yang tidak biasa. Tiga by Kanca berada dalam satu tapak dengan Studio Kanca—yang sekaligus menjadi perancang dan pemilik kafe ini. Posisi ini menjadikan bangunan bukan hanya sebagai proyek komersial, tetapi juga sebagai perpanjangan langsung dari praktik dan pemikiran arsitek yang merancangnya. Tanpa fasad mencolok atau signage besar, Tiga by Kanca menyapa pengunjung secara perlahan—melalui skala bangunan, pilihan material, dan tata ruang yang dirancang dengan penuh kesadaran. Dirancang oleh Kanca Studio untuk dirinya sendiri, kafe ini menjadi semacam laboratorium kecil, tempat gagasan tentang…

Read More

Di kawasan perbukitan Karjat, Maharashtra, India, sebuah rumah tinggal dibangun di atas kondisi tapak yang tidak lazim. Dua bidang tanah terpisah oleh sebuah spillway sedalam tujuh meter yang membentuk jurang alami. Alih-alih meratakan bentang alam tersebut, proyek yang diberi nama Bridge House ini justru menjadikannya sebagai dasar perancangan. Proyek ini dirancang oleh Wallmakers, studio arsitektur yang dipimpin oleh Ar. Vinu Daniel. Bangunan berfungsi sebagai hunian sekaligus farmhouse. Dengan demikian, rumah ini dibangun sebagai struktur jembatan yang menghubungkan dua sisi lahan. Intervensi terhadap tanah dibuat seminimal mungkin agar kontur dan aliran air tetap terjaga. Baca Juga : Lattice Garden di Sol…

Read More

Frank Gehry menempati posisi yang unik dalam sejarah arsitektur kontemporer. Ia bukan sekadar perancang bangunan ikonik, tetapi arsitek yang secara konsisten menantang batas konvensi bentuk, struktur, dan bahasa arsitektur itu sendiri. Di tengah arsitektur modern yang lama didominasi oleh keteraturan dan rasionalitas, Gehry memilih jalur yang lebih bebas, lebih plastis, dan lebih dekat dengan dunia seni rupa. Sejak awal kariernya, ia menunjukkan ketertarikan pada arsitektur yang tidak tunduk pada geometri yang rapi. Sketsa, model fisik, dan eksperimen material menjadi alat utama untuk mencari bentuk. Sikap ini kemudian berkembang menjadi bahasa arsitektur yang segera dikenali: volume terdistorsi, permukaan berlapis, dan komposisi…

Read More

Kelas Sabtu dengan tema “Arsitektur 10.000 Jam” kembali diselenggarakan sebagai lanjutan dari edisi pertamanya pada 13 Desember 2025. Program ini telah berlangsung sejak tahun 2018 sebagai kegiatan berbagi dan diskusi bagi siapa pun yang ingin memahami proses kerja di bidang arsitektur, baik dari sisi teknis maupun perjalanan karier. Edisi kedua Kelas Sabtu ini dilaksanakan pada Sabtu, 17 Januari 2026, bertempat di RM. Pantjaran, Sleman, Yogyakarta. Baca Juga : Membaca Pemikiran Zaha Hadid dalam Arsitektur Kontemporer Rangkaian Acara Acara diawali dengan sambutan oleh Judy Pranata (JP Studio), yang menyampaikan latar belakang penyelenggaraan Kelas Sabtu serta tujuan kegiatan ini. Setelah itu, sesi…

Read More

Dalam lanskap arsitektur kontemporer yang kerap mengejar bentuk ikonik dan citra visual yang kuat, Kengo Kuma menempati posisi yang berbeda. Ia dikenal sebagai arsitek yang secara konsisten menolak arsitektur sebagai objek tunggal yang dominan. Bagi Kuma, arsitektur bukan tentang bagaimana bangunan terlihat dari kejauhan, melainkan bagaimana ia hadir, dialami, dan membangun relasi dengan konteksnya. Cara berpikir ini tidak muncul sebagai gaya yang mudah dikenali, melainkan sebagai sikap yang berulang kali diterapkan dalam berbagai proyek—dari skala kecil hingga besar, dari Jepang hingga Eropa. Baca Juga : Membaca Pemikiran Zaha Hadid dalam Arsitektur Kontemporer Menjauh dari Arsitektur sebagai Monumen Kengo Kuma kerap…

Read More

Suzhou Museum of Contemporary Art berdiri di tepi Jinji Lake, Suzhou, China, dan dirancang oleh BIG (Bjarke Ingels Group) bekerja sama dengan ARTS Group dan Front Inc. Hadir sebagai institusi seni kontemporer berskala besar di kota dengan sejarah arsitektur yang panjang, museum ini sejak awal dihadapkan pada satu pertanyaan mendasar: bagaimana bangunan publik baru dapat hadir tanpa menjadikan dirinya pusat perhatian utama. Alih-alih tampil sebagai objek tunggal yang dominan, museum ini memilih sikap yang lebih berhati-hati. Pendekatan tersebut dapat dibaca sebagai kritik terhadap kecenderungan arsitektur ikonik—di mana bangunan sering kali diposisikan sebagai simbol visual yang berdiri terpisah dari konteksnya. Baca…

Read More

Therme Vals adalah bangunan pemandian air panas yang terletak di desa kecil Vals, Swiss. Dirancang oleh Peter Zumthor dan selesai pada pertengahan 1990-an, bangunan ini kerap dibicarakan dalam diskursus arsitektur bukan karena bentuknya yang ikonik, melainkan karena cara ia disusun dan ditempatkan. Dari luar, Therme Vals nyaris tidak tampil sebagai bangunan publik berskala besar. Struktur ini sebagian besar ditanam ke dalam lereng pegunungan, mengikuti kontur tanah yang ada. Pendekatan ini membuat kehadirannya terasa tertahan. Ia tidak berusaha menjadi objek visual yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari lanskap yang lebih luas. Baca Juga : Membaca Pemikiran Zaha Hadid dalam Arsitektur Kontemporer…

Read More

Nama Zaha Hadid hampir selalu diasosiasikan dengan bangunan-bangunan ikonik, bentuk cair, dan geometri yang tampak menantang gravitasi. Namun membaca Zaha Hadid hanya dari bentuk karyanya akan selalu terasa kurang. Di balik visual yang kuat, terdapat pemikiran arsitektur yang radikal, konsisten, dan sering kali tidak kompromistis terhadap cara pandang konvensional tentang ruang. Zaha Hadid bukan sekadar perancang bentuk. Ia adalah pemikir yang menggunakan arsitektur sebagai medium untuk mempertanyakan ulang bagaimana ruang dipahami, dialami, dan digerakkan. Baca Juga : Intaaya Retreat — Arsitektur Wellness Berbasis Material Alami di Nusa Penida Zaha Hadid dalam Konteks Arsitektur Kontemporer Zaha Hadid muncul pada periode ketika…

Read More

Terletak di tebing Nusa Penida, Intaaya Retreat dirancang sebagai destinasi wellness yang mengintegrasikan arsitektur, lanskap, dan sistem berkelanjutan dalam satu kesatuan pengalaman ruang. Proyek karya Pablo Luna Studio ini tidak menempatkan bangunan sebagai objek dominan, melainkan sebagai bagian dari ekosistem alam yang bekerja secara aktif dan sadar lingkungan. Alih-alih menonjolkan kemewahan visual, Intaaya mengedepankan kualitas ruang yang tenang, terukur, dan berorientasi pada keberlanjutan jangka panjang. Baca Juga : Villa Savoye : Manifesto Arsitektur Modern karya Le Corbusier Pendekatan Desain: Arsitektur yang Dibangun dengan Tujuan Intaaya dirancang dengan pendekatan purpose-driven architecture, di mana setiap keputusan material dan sistem konstruksi memiliki peran…

Read More