Author: gravitarchi

Dibangun antara 1961–1964 di Tokyo, untuk 1964 Summer Olympics, Yoyogi National Gymnasium dirancang oleh Kenzo Tange sebagai arena olahraga bentang besar dengan kapasitas tinggi. Proyek ini tidak diperlakukan sekadar sebagai fasilitas kompetisi, tetapi sebagai eksperimen struktural yang mendorong batas teknologi konstruksi pada masanya. Alih-alih membentuk monumentalitas melalui massa beton yang masif, Tange menjadikan sistem struktur sebagai dasar organisasi ruang. Ekspresi arsitekturnya diturunkan langsung dari logika kerja struktur, bukan dari pendekatan formal atau simbolik, sehingga bentuk yang dihasilkan terasa ringan, efisien, dan rasional. Pendekatan ini menempatkan struktur sebagai generator utama desain, bukan elemen pendukung. Baca Juga : New Science and Technology…

Read More

Di tengah ketidakpastian praktik arsitektur hari ini—mulai dari perlambatan siklus properti, perubahan pola kerja, hingga dinamika sosial pascapandemi—arsitek dituntut untuk tidak sekadar bertahan. Ia perlu lentur, adaptif, sekaligus berani berevolusi. Dalam konteks inilah kata resilient menjadi semakin relevan. Jumat, 13 Februari 2026, Yogyakarta Young Architects (YYAF) kembali menyelenggarakan Meeting Marathon ke-14 bertajuk “Resilient” di Empire XXI Yogyakarta, Yogyakarta. Sejak sore hingga malam hari, forum ini menghadirkan ruang temu bagi arsitek muda, praktisi, dan pelaku profesi untuk berbagi pengalaman sekaligus membaca ulang arah arsitektur hari ini. Sebagai media partner, Gravitarchi mendokumentasikan rangkaian diskusi yang berkembang—sebuah percakapan kolektif tentang bagaimana desain, praktik,…

Read More

Sebagai media arsitektur, Gravitarchi meliput RASANRASAN: Expertise Talkshow — AI dan masa depan kreatif yang diselenggarakan oleh Gelora Inovasi Kreatif UGM bersama Galeri Bulaksumur dan Sedekat Imaji Rupa. Forum lintas disiplin ini mempertemukan akademisi, praktisi teknologi, dan pelaku seni untuk mendiskusikan peran AI dalam riset, desain, etika, praktik lapangan, hingga keadilan sosial. Kecerdasan buatan (AI) kini tak lagi sebatas wacana teknologi. Perlahan, ia menjadi bagian dari praktik kreatif sehari-hari. Teknologi ini hadir di studio desain, ruang kelas, hingga proses riset. Akibatnya, cara ide diuji, divisualisasikan, dan diproduksi pun berubah. Bagi arsitektur, perubahan tersebut terasa nyata. Pertanyaannya bukan lagi apakah AI…

Read More

New Science and Technology Museum of Henan Province berdiri di Zhengzhou, Cina, sebagai salah satu kompleks museum sains terbesar di kawasan tersebut. Dirancang oleh TJAD Atelier L+, bangunan ini tidak sekadar menghadirkan ruang pamer edukatif berskala besar, tetapi mencoba merumuskan kembali bagaimana arsitektur publik bekerja sebagai sistem—mengatur pergerakan, merespons iklim, sekaligus membentuk ruang kolektif kota. Alih-alih tampil sebagai objek monumental yang terpisah dari sekitarnya, museum ini diperlakukan sebagai bagian dari lanskap. Bentuknya melebar, bercabang, dan berlapis, seolah menyatu dengan aliran angin serta topografi tapak. Pendekatan tersebut menunjukkan sikap yang lebih infrastruktural daripada ikonik. Baca Juga : Suzhou Museum of Contemporary…

Read More

Y.B. Mangunwijaya, atau yang dikenal sebagai Romo Mangun, menempati posisi unik dalam arsitektur Indonesia. Pendekatan Romo Mangun terhadap arsitektur sosial lahir dari latar belakangnya sebagai rohaniwan, pendidik, penulis, sekaligus arsitek. Kombinasi peran tersebut membentuk pendekatan yang berbeda terhadap praktik desain. Bagi Romo Mangun, arsitektur tidak berhenti pada bentuk atau estetika, melainkan berkaitan langsung dengan martabat dan kualitas hidup manusia. Alih-alih merancang bangunan monumental, ia lebih banyak terlibat dalam proyek-proyek yang menyentuh kebutuhan masyarakat sehari-hari. Karyanya menunjukkan bahwa arsitektur dapat hadir secara sederhana, kontekstual, dan berdampak sosial. Baca Juga : Han Awal, Arsitek Legendaris Berpengaruh di Indonesia Latar Belakang dan Pembentukan…

Read More

Kisho Kurokawa merupakan salah satu figur penting dalam perkembangan arsitektur Jepang pascaperang sekaligus anggota inti gerakan Metabolisme pada 1960-an. Dalam periode ketika kota-kota Jepang dibangun ulang dengan cepat dan teknologi berkembang pesat, ia mempertanyakan gagasan arsitektur sebagai bentuk permanen yang tidak berubah. Bagi Kurokawa, bangunan tidak bisa diperlakukan sebagai objek statis dengan umur panjang yang tetap. Lingkungan urban bergerak jauh lebih cepat daripada arsitekturnya. Karena itu, ia mengusulkan pendekatan yang memungkinkan ruang untuk tumbuh, diperbarui, dan beradaptasi terhadap perubahan sosial maupun teknologi. Arsitektur, dalam pandangannya, adalah sistem yang terbuka. Baca Juga : Frank Gehry dan Pemberontakan Terakhir dalam Arsitektur Metabolisme…

Read More

RM Pantjaran Sleman berlokasi di Jl. Wijaya Kusuma, Dero, Condongcatur. Rumah makan ini dirancang dengan pendekatan ruang terbuka yang memaksimalkan hubungan antara area makan dan lingkungan sekitar. Tapak disusun secara linear dari depan ke belakang, dengan urutan ruang yang jelas dan mudah dibaca oleh pengunjung sejak pertama masuk area. Baca Juga : Tiga by Kanca : Merancang Pengalaman Ruang melalui Arsitektur Slow Bar Tata Tapak dan Sirkulasi RM Pantjaran Sleman Area parkir ditempatkan di bagian depan tapak dan menggunakan lapisan batu kerikil. Dari area ini, sirkulasi pengunjung diarahkan langsung menuju area makan outdoor di sisi kiri tapak. Jalur masuk tidak…

Read More

Di Gang Akasia, Kwarasan, Sleman, Yogyakarta, berdiri sebuah coffee shop berukuran kecil yang menawarkan pengalaman arsitektur coffee shop yang tidak biasa. Tiga by Kanca berada dalam satu tapak dengan Studio Kanca—yang sekaligus menjadi perancang dan pemilik kafe ini. Posisi ini menjadikan bangunan bukan hanya sebagai proyek komersial, tetapi juga sebagai perpanjangan langsung dari praktik dan pemikiran arsitek yang merancangnya. Tanpa fasad mencolok atau signage besar, Tiga by Kanca menyapa pengunjung secara perlahan—melalui skala bangunan, pilihan material, dan tata ruang yang dirancang dengan penuh kesadaran. Dirancang oleh Kanca Studio untuk dirinya sendiri, kafe ini menjadi semacam laboratorium kecil, tempat gagasan tentang…

Read More

Di kawasan perbukitan Karjat, Maharashtra, India, sebuah rumah tinggal dibangun di atas kondisi tapak yang tidak lazim. Dua bidang tanah terpisah oleh sebuah spillway sedalam tujuh meter yang membentuk jurang alami. Alih-alih meratakan bentang alam tersebut, proyek yang diberi nama Bridge House ini justru menjadikannya sebagai dasar perancangan. Proyek ini dirancang oleh Wallmakers, studio arsitektur yang dipimpin oleh Ar. Vinu Daniel. Bangunan berfungsi sebagai hunian sekaligus farmhouse. Dengan demikian, rumah ini dibangun sebagai struktur jembatan yang menghubungkan dua sisi lahan. Intervensi terhadap tanah dibuat seminimal mungkin agar kontur dan aliran air tetap terjaga. Baca Juga : Lattice Garden di Sol…

Read More

Frank Gehry menempati posisi yang unik dalam sejarah arsitektur kontemporer. Ia bukan sekadar perancang bangunan ikonik, tetapi arsitek yang secara konsisten menantang batas konvensi bentuk, struktur, dan bahasa arsitektur itu sendiri. Di tengah arsitektur modern yang lama didominasi oleh keteraturan dan rasionalitas, Gehry memilih jalur yang lebih bebas, lebih plastis, dan lebih dekat dengan dunia seni rupa. Sejak awal kariernya, ia menunjukkan ketertarikan pada arsitektur yang tidak tunduk pada geometri yang rapi. Sketsa, model fisik, dan eksperimen material menjadi alat utama untuk mencari bentuk. Sikap ini kemudian berkembang menjadi bahasa arsitektur yang segera dikenali: volume terdistorsi, permukaan berlapis, dan komposisi…

Read More