Author: gravitarchi

Sebagai bagian dari Asian Games Hangzhou 2023, Fuyang Yinhu Sport Center di kawasan Hangzhou memperlihatkan pendekatan yang berangkat dari pengelolaan sistem, bukan sekadar ekspresi bentuk. Proyek ini tidak mengejar gestur ikonik, melainkan ketepatan dalam merespons program, struktur, dan lanskap secara bersamaan. Dirancang oleh UAD – Architectural Design and Research Institute of Zhejiang University, kompleks ini sejak awal diposisikan sebagai infrastruktur jangka panjang. Fungsinya tidak berhenti pada kebutuhan event, tetapi diarahkan untuk tetap operasional setelah siklus tersebut berakhir. Baca Juga : Yoyogi National Gymnasium — Struktur Tarik sebagai Strategi Ruang Publik Artikulasi Massa dan Lanskap Komposisi massa dibentuk melalui pembacaan kondisi…

Read More

Dalam arsitektur kontemporer, nama Thomas Heatherwick hampir tidak pernah berada di posisi netral. Karyanya tidak hanya dinikmati, tetapi juga memicu perdebatan—dipuji karena keberaniannya, sekaligus dikritik karena dianggap terlalu menonjol. Melalui Heatherwick Studio, ia membawa pendekatan yang berangkat dari kritik terhadap kota modern yang dinilai terlalu seragam dan kehilangan karakter. Bagi Heatherwick, arsitektur tidak cukup hanya berfungsi dengan baik, tetapi juga harus mampu membangun hubungan dengan manusia. Baca Juga : Bernard Tschumi dan Ruang yang Terus Bergerak Sosok yang Sulit Ditempatkan Pendekatan Heatherwick membuat posisinya dalam arsitektur tidak mudah dikategorikan. Ia tidak sepenuhnya berada dalam jalur arsitektur konvensional, namun juga tidak…

Read More

Terletak di tepian Sungai Huangpu, Shanghai Grand Opera House menghadirkan pendekatan baru terhadap tipologi gedung pertunjukan. Dirancang oleh Snøhetta bekerja sama dengan East China Architectural Design & Research Institute, proyek ini tidak hanya berfungsi sebagai ruang seni pertunjukan, tetapi juga sebagai lanskap publik yang terbuka bagi masyarakat. Bangunan ini dirancang sebagai ruang yang dapat diakses sepanjang hari. Pendekatan tersebut memperlihatkan bagaimana arsitektur budaya dapat berperan sebagai bagian dari kehidupan kota yang lebih luas. Baca Juga : Sagawa Art Museum : Arsitektur Reflektif di Tepi Danau karya Tadao Ando Arsitektur di Tepi Sungai Berlokasi di kawasan tepi Sungai Huangpu di Shanghai,…

Read More

Di banyak karya Tadao Ando, arsitektur dibentuk melalui kontrol ruang, cahaya, dan material yang presisi. Pendekatan tersebut terlihat jelas pada Sagawa Art Museum, sebuah museum yang dirancang dengan komposisi sederhana namun menghadirkan pengalaman ruang yang kuat. Alih-alih menonjolkan bentuk yang ekspresif, bangunan ini menggunakan geometri yang tenang dan skala yang rendah. Air, beton, dan cahaya menjadi elemen utama yang membangun karakter arsitektur. Setiap elemen dirancang secara terukur, menciptakan suasana yang hening dan terkendali. Pendekatan ini memperlihatkan bagaimana kesederhanaan dapat menjadi strategi desain yang kuat, sekaligus membentuk kualitas ruang yang lebih mendalam. Baca Juga : Suzhou Museum of Contemporary Art :…

Read More

Minggu lalu, tim Gravitarchi menghadiri undangan acara Halal Bi Halal sekaligus sosialisasi awal Jakal Design Week 2026. Pertemuan ini menjadi momentum awal yang mempertemukan berbagai komunitas kreatif, pelaku desain, serta mitra kolaborator. Acara tersebut berlangsung di Bima Square, Nglaban, Sinduharjo, Ngaglik, Sleman. Dalam suasana hangat dan penuh keakraban, para penggagas Jakal Design Week 2026 hadir untuk menyapa para undangan sekaligus memperkenalkan konsep awal penyelenggaraan yang direncanakan berlangsung pada akhir Agustus hingga awal September 2026. Baca Juga : Mencatat Ketangguhan Praktik Arsitektur lewat Meeting Marathon YYAF Resilient di Yogyakarta Perjalanan Kreatif di Koridor Jalan Kaliurang Jakal Design Week merupakan sebuah perjalanan…

Read More

Dalam arsitektur kontemporer, Bernard Tschumi dikenal sebagai sosok yang mengubah cara kita memahami ruang. Ia tidak melihat arsitektur sebagai bangunan yang statis, melainkan sebagai ruang yang hidup—dipenuhi aktivitas, pergerakan, dan pengalaman manusia. Di tengah arsitektur yang sering berfokus pada bentuk, Tschumi menawarkan pendekatan berbeda. Baginya, arsitektur tidak hanya tentang bentuk atau fungsi, tetapi tentang apa yang terjadi di dalam ruang tersebut. Aktivitas, pergerakan, dan interaksi manusia menjadi bagian penting dari desain. Pendekatan ini kemudian dikenal sebagai Architecture as Event, sebuah gagasan bahwa arsitektur menjadi bermakna ketika digunakan dan dialami. Dalam konteks ini, ruang tidak lagi menjadi objek yang diam, tetapi…

Read More

Di tengah arsitektur yang sering kali berfokus pada bentuk dan visual, Eko Prawoto menghadirkan pendekatan yang berbeda. Baginya, arsitektur bukan sekadar bangunan, melainkan proses memahami manusia, budaya, dan lingkungan. Pemikiran ini membuat karya-karyanya terasa sederhana, namun memiliki kedalaman makna. Arsitektur tidak tampil sebagai objek yang mencolok, tetapi hadir sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Baca Juga : Y.B. Mangunwijaya (Romo Mangun) dan Arsitektur Sosial di Indonesia Pengaruh Romo Mangun dalam Pemikiran Eko Prawoto Pemikiran Eko Prawoto tidak lepas dari pengaruh gurunya, Y.B. Mangunwijaya. Romo Mangun dikenal dengan pendekatan arsitektur yang humanis dan membumi. Pendekatan ini kemudian berkembang dalam karya-karya beliau dengan…

Read More

Terletak di Shanghai, Solar Trees Marketplace menghadirkan pendekatan baru terhadap tipologi ruang komersial. Dirancang oleh Koichi Takada Architects, proyek ini merupakan desain terpilih dalam pengembangan kawasan One Tian An Place yang dikembangkan oleh Tian An China. Setelah selesai dibangun, proyek ini kemudian memenangkan sejumlah penghargaan arsitektur internasional, menegaskan kualitas pendekatan desain yang menggabungkan arsitektur, lanskap, dan ruang publik dalam satu sistem yang terpadu. Alih-alih menghadirkan pusat komersial sebagai massa tertutup, Solar Trees Marketplace mengusulkan pengalaman ruang yang lebih terbuka dan menyatu dengan lanskap. Struktur bangunan dirancang menyerupai hutan buatan, menghadirkan ruang publik yang teduh sekaligus fleksibel. Baca Juga : Membaca…

Read More

Dalam arsitektur kontemporer, Bjarke Ingels hadir sebagai figur yang membawa pendekatan berbeda. Ia tidak menempatkan arsitektur sebagai eksperimen bentuk semata, melainkan sebagai alat untuk menegosiasikan berbagai kepentingan yang saling bertabrakan dalam kehidupan kota modern. Di tengah tuntutan keberlanjutan, ekonomi, teknologi, dan kualitas hidup, Ingels menawarkan pendekatan yang tidak memilih salah satu, tetapi mencoba menggabungkan semuanya. Sebagai pendiri Bjarke Ingels Group, ia memperkenalkan konsep Pragmatic Utopia—sebuah gagasan bahwa idealisme dalam arsitektur tidak harus utopis dan sulit diwujudkan. Sebaliknya, idealisme dapat dirancang secara realistis melalui kompromi, negosiasi, dan strategi desain yang adaptif. Pendekatan ini menempatkan arsitektur bukan sebagai solusi tunggal, tetapi sebagai…

Read More

Dibangun antara 1961–1964 di Tokyo, untuk 1964 Summer Olympics, Yoyogi National Gymnasium dirancang oleh Kenzo Tange sebagai arena olahraga bentang besar dengan kapasitas tinggi. Proyek ini tidak diperlakukan sekadar sebagai fasilitas kompetisi, tetapi sebagai eksperimen struktural yang mendorong batas teknologi konstruksi pada masanya. Alih-alih membentuk monumentalitas melalui massa beton yang masif, Tange menjadikan sistem struktur sebagai dasar organisasi ruang. Ekspresi arsitekturnya diturunkan langsung dari logika kerja struktur, bukan dari pendekatan formal atau simbolik, sehingga bentuk yang dihasilkan terasa ringan, efisien, dan rasional. Pendekatan ini menempatkan struktur sebagai generator utama desain, bukan elemen pendukung. Baca Juga : New Science and Technology…

Read More