Close Menu
  • Homes
  • News
  • Tips
  • Info
    • Info Arsitektur
    • Info Interior
    • Info Material
    • Info Struktur
  • Figure
  • Event
  • ID
  • ENG
Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram
gravitarchigravitarchi
Subscribe
  • Homes
  • News
  • Tips
  • Info
    • Info Arsitektur
    • Info Interior
    • Info Material
    • Info Struktur
  • Figure
  • Event
  • ID
  • ENG
gravitarchigravitarchi
Home » Masjid Baiturrahman, Berdiri Kokoh Saat Tsunami Aceh Menerjang
Info

Masjid Baiturrahman, Berdiri Kokoh Saat Tsunami Aceh Menerjang

gravitarchiBy gravitarchiAugust 18, 2024No Comments3 Mins Read
Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Masjid Baiturrahman Aceh
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Masjid Baiturrahman merupakan landmark kebanggaan Banda Aceh. Masjid ini didirikan pada masa Kesultanan Aceh Darussalam di bawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Meski demikian, ada pula yang mempercayai bahwa masjid ini sebelumnya sudah dibangun pada tahun 1292 oleh Sultan Mahmudsyah.

Masjid ini pernah dibakar oleh pihak Belanda pada tahun 1873. Hal tersebut menyulut kemarahan rakyat Aceh dan meningkatkan perjuangan mereka dalam melawan Belanda. Untuk meredam kemarahan mereka, kolonial Belanda diwakili oleh Gubernur Jenderal van Lansnerge akhirnya membangun kembali masjid ini.

Baca juga: Mengulik Arsitektur Masjid Istiqlal, Terbesar di Asia Tenggara

Peletakan batu pertama dilakukan oleh Tengku Qadhi Malikul Hadi pada 9 Oktober 1879. Masjid ini diresmikan pada 27 Desember 1881. Sejak saat itu, masjid mengalami beberapa kali pemugaran.

Masjid Baiturrahman Berdiri Kokoh Saat Tsunami Aceh 2004

masjid baiturrahman dalam tsunami aceh 2004

Masjid Baiturrahman sempat menarik perhatian dunia. Saat bangunan lain tersapu bersih oleh ombak Tsunami Aceh pada 26 Desember 2004, masjid ini masih berdiri kokoh. Pada saat itu, masjid dijadikan tempat penampungan sementara bagi pengungsi.  Sejak kejadian tersebut, masjid mengalami kerusakan berat dan kembali di renovasi.

Mengutip Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL), sekarang masjid ini bisa menampung hingga 24.000 jamaah. Pada masa pemerintahan Zaini Abdullah (2012-2017), pekarangan masjid yang dulunya dipenuhi rerumputan diganti hamparan marmer yang dilengkapi dengan 12 payung elektrik untuk melindungi jamaah dari panas sinar matahari.

Sekarang, masjid memiliki taman, 7 kubah, 4 menara, dan 1 menara induk dengan luas bagian dalam masjid sekitar 4.760 meter persegi. Sebagai salah satu objek wisata yang sering dikunjungi wisatawan, masjid ini menjadi sentral berbagai kegiatan umat islam di Aceh.

Baca juga: Menyatukan Keindahan Tradisional dan Modern dalam Desain Masjid YTCS

Gaya Arsitektur Masjid Baiturrahman Aceh

arsitektur masjid baiturrahman

Masjid Baiturrahman yang dibangun oleh Belanda dirancang oleh arsitek bernama Gerrit van Bruins. Dalam proses desain, ia sempat berkonsultasi dengan Snouck Hurgronje dan penghulu masjid di Bandung.

Secara keseluruhan, masjid ini menggabungkan sejumlah style arsitektur beberapa negara. Ciri khas yang tampak pada masjid ini tampak pada bentuk menara dan kubah yang besar layaknya Taj Mahal di India. Style ini mengadopsi gaya arsitektur Mughal, khas arsitektur kuno India.

Baca juga: Desain Interior Rumah Industrial Japandi, Bikin Betah di Rumah

Bagian gerbang utama menyerupai gaya rumah klasik Belanda yang dibatasi oleh serambi bergaya arsitektur masjid yang ada di Spanyol. Sebelum memasuki bagian dalam masjid, terlihat 3 pintu besar dari kayu yang dihiasi banyak ornamen. Hal unik lainnya yang dapat ditemukan pada masjid ini adalah adanya kaca patri.

Dinding bagian dalam Masjid Baiturrahman didominasi relief arabesque dan empat sisi atap di bawah kubah tertera ayat Al-Qur’an berwarna kuning keemasan berlatar hijau. Selain itu, terdapat 17 titik lampu gantung sebagai penerang. Lampu ini juga terlihat di mihrab masjid, tepat di bagian tengah dan depan ruangan.

arsitektur masjid baiturrahman kesultanan aceh masjid baiturrahman masjid baiturrahman aceh masjid bersejarah di aceh tsunami 2004
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
gravitarchi
  • Website

Related Posts

Shanghai Grand Opera House : Arsitektur Dinamis sebagai Ruang Publik Kota

April 22, 2026

Sagawa Art Museum : Arsitektur Reflektif di Tepi Danau karya Tadao Ando

April 20, 2026

Solar Trees Marketplace — Arsitektur Pasar sebagai Lanskap oleh Koichi Takada

April 7, 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Demo
Artikel Terbaru

Kenapa Thomas Heatherwick Selalu Diperdebatkan?

April 27, 2026

Shanghai Grand Opera House : Arsitektur Dinamis sebagai Ruang Publik Kota

April 22, 2026

Sagawa Art Museum : Arsitektur Reflektif di Tepi Danau karya Tadao Ando

April 20, 2026

Menuju Jakal Design Week 2026 : Awal Kolaborasi di Koridor Jalan Kaliurang

April 15, 2026

Bernard Tschumi dan Ruang yang Terus Bergerak

April 14, 2026

Belajar Arsitektur Kontekstual dari Eko Prawoto

April 9, 2026

Solar Trees Marketplace — Arsitektur Pasar sebagai Lanskap oleh Koichi Takada

April 7, 2026
Demo
Demo
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
  • Kontak
  • Tentang Kami
© 2026 gravitarchi, Designed by gravitarchi.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.