Close Menu
  • Homes
  • News
  • Tips
  • Info
    • Info Arsitektur
    • Info Interior
    • Info Material
    • Info Struktur
  • Figure
  • Event
  • ID
  • ENG
Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram
gravitarchigravitarchi
Subscribe
  • Homes
  • News
  • Tips
  • Info
    • Info Arsitektur
    • Info Interior
    • Info Material
    • Info Struktur
  • Figure
  • Event
  • ID
  • ENG
gravitarchigravitarchi
Home » Lattice Garden di Sol Collective: Upcycled Parametric Facade untuk Lanskap Urban yang Lebih Adaptif
Info

Lattice Garden di Sol Collective: Upcycled Parametric Facade untuk Lanskap Urban yang Lebih Adaptif

gravitarchiBy gravitarchiDecember 5, 2025No Comments3 Mins Read
Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Di tengah kepadatan kawasan SCBD Jakarta, Sol Collective memperkenalkan pendekatan berbeda terhadap desain bangunan komersial. Alih-alih tampil sebagai massa tertutup yang terpisah dari lingkungan sekitar, bangunan ini memaksimalkan relasi dengan ruang luar melalui Lattice Garden — sebuah fasad parametrik hasil upcycling material yang dirancang untuk menghadirkan keseimbangan antara keteduhan alami dan buatan.

Proyek ini merupakan kolaborasi antara RAD Architects dan Mortier, menghadirkan interpretasi baru tentang bagaimana arsitektur dapat bersifat nature-centric tanpa harus meninggalkan konteks urban yang padat.

Baca Juga : Stormproof Playground di Shaoxing University : Strategi Desain untuk Perlindungan Iklim Ekstrem

Upcycled Material sebagai Sistem Peneduh Berbasis Performa

Kisi-kisi fasad parametrik pada bangunan ini bukan sekadar elemen visual. Material yang digunakan berasal dari upcycled plastic caps — material ringan namun kuat ketika disusun dalam pola berulang. Dengan pendekatan parametrik, unit kisi disusun untuk memecah dan menyaring cahaya, menghasilkan keteduhan yang optimal pada jam paling panas sekaligus menjaga keterbukaan visual dari dalam bangunan.

Sistem fasad ini bekerja sebagai adaptive sunscreen:

  • mengurangi paparan radiasi matahari langsung,
  • menurunkan beban pendinginan ruang dalam,
  • menciptakan dinamika cahaya yang berubah sepanjang hari.

Pendekatan ini memperkuat gagasan bahwa reuse dan performance dapat berjalan berdampingan dalam desain arsitektur kontemporer.

Lattice Garden di Sol Collective: Upcycled Parametric Facade untuk Lanskap Urban yang Lebih Adaptif. (Sumber : radararchitect)

Dialog antara Naungan Alami dan Buatan

Selain sistem fasad upcycled, desain bangunan secara sengaja mempertahankan pepohonan existing di area Sol Collective. Alih-alih menghilangkannya demi komposisi arsitektur, vegetasi yang sudah matang menjadi bagian integral dalam strategi desain.

Hasilnya tercipta dua lapis shading:

  1. Naungan natural — kanopi pepohonan mengontrol tampias sinar matahari dan menciptakan microclimate yang sejuk di area publik luar.
  2. Naungan artificial — kisi parametrik pada fasad mendukung fungsi termal dan kenyamanan visual di area dalam.

Kombinasi ini membuat transisi luar-dalam terasa mulus dan tidak kaku, menciptakan suasana tempat (sense of place) yang jarang ditemukan pada bangunan komersial di pusat kota.

Lattice Garden di Sol Collective: Upcycled Parametric Facade untuk Lanskap Urban yang Lebih Adaptif. (Sumber : radararchitect)

Bangunan sebagai Ekosistem Aktivitas

Lattice Garden tidak hanya bekerja untuk performa energi dan kenyamanan, namun juga mengisi peran sosial. Ruang yang terlindungi tetapi tetap terbuka mendorong aktivitas publik, berkumpul, dan bekerja secara spontan — kebutuhan nyata bagi komunitas profesional SCBD yang mobilitasnya tinggi.

Penerapan shading adaptif ini memungkinkan:

  • aktivitas luar ruang tetap nyaman pada jam kerja,
  • aktivitas malam hari tetap mendapat pencahayaan yang terkendali,
  • fleksibilitas penggunaan ruang tanpa banyak peralatan mekanikal tambahan.

Arsitektur di sini bukan hanya wadah, tetapi perangkat yang mendukung pola hidup urban modern.

Lattice Garden di Sol Collective: Upcycled Parametric Facade untuk Lanskap Urban yang Lebih Adaptif. (Sumber : radararchitect)

Baca Juga : Smart Home di Era Sekarang: Kebutuhan Nyata atau Sekadar Tren? | Arsitek Jogja – Rancang Reka Ruang

Sol Collective dan Evolusi Fasad Adaptif dalam Arsitektur Urban

Melalui Lattice Garden, Sol Collective menawarkan paradigma desain baru : bangunan yang hidup berdampingan dengan alam tanpa meninggalkan konteks metropolis. Kolaborasi RAD Architects × Mortier menunjukkan bahwa nature-centric architecture bukan sekadar estetika hijau, tetapi strategi teknis yang meningkatkan performa ruang, efisiensi energi, dan kualitas pengalaman pengguna.

Tim Perancang

Arsitek : RAD+ Architects
Material Partner : MORTIER, perusahaan yang mengolah limbah menjadi material desain ramah lingkungan (didirikan tahun 2017)

Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
gravitarchi
  • Website

Related Posts

Suzhou Museum of Contemporary Art : Kritik atas Arsitektur Ikonik

January 14, 2026

Membaca Therme Vals Karya Peter Zumthor

January 13, 2026

Intaaya Retreat — Arsitektur Wellness Berbasis Material Alami di Nusa Penida

January 5, 2026

Comments are closed.

Demo
Artikel Terbaru

Fragmen, Material, dan Transisi : Cara Berpikir Kengo Kuma

January 15, 2026

Suzhou Museum of Contemporary Art : Kritik atas Arsitektur Ikonik

January 14, 2026

Membaca Therme Vals Karya Peter Zumthor

January 13, 2026

Membaca Pemikiran Zaha Hadid dalam Arsitektur Kontemporer

January 8, 2026

Intaaya Retreat — Arsitektur Wellness Berbasis Material Alami di Nusa Penida

January 5, 2026

Villa Savoye : Manifesto Arsitektur Modern karya Le Corbusier

December 23, 2025

Frank Lloyd Wright : Arsitek Visioner yang Mengubah Wajah Arsitektur Dunia

December 19, 2025
Demo
Demo
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
  • Kontak
  • Tentang Kami
© 2026 gravitarchi, Designed by gravitarchi.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.