Di tengah kepadatan kawasan SCBD Jakarta, Sol Collective memperkenalkan pendekatan berbeda terhadap desain bangunan komersial. Alih-alih tampil sebagai massa tertutup yang terpisah dari lingkungan sekitar, bangunan ini memaksimalkan relasi dengan ruang luar melalui Lattice Garden — sebuah fasad parametrik hasil upcycling material yang dirancang untuk menghadirkan keseimbangan antara keteduhan alami dan buatan.
Proyek ini merupakan kolaborasi antara RAD Architects dan Mortier, menghadirkan interpretasi baru tentang bagaimana arsitektur dapat bersifat nature-centric tanpa harus meninggalkan konteks urban yang padat.
Baca Juga : Stormproof Playground di Shaoxing University : Strategi Desain untuk Perlindungan Iklim Ekstrem
Upcycled Material sebagai Sistem Peneduh Berbasis Performa
Kisi-kisi fasad parametrik pada bangunan ini bukan sekadar elemen visual. Material yang digunakan berasal dari upcycled plastic caps — material ringan namun kuat ketika disusun dalam pola berulang. Dengan pendekatan parametrik, unit kisi disusun untuk memecah dan menyaring cahaya, menghasilkan keteduhan yang optimal pada jam paling panas sekaligus menjaga keterbukaan visual dari dalam bangunan.
Sistem fasad ini bekerja sebagai adaptive sunscreen:
- mengurangi paparan radiasi matahari langsung,
- menurunkan beban pendinginan ruang dalam,
- menciptakan dinamika cahaya yang berubah sepanjang hari.
Pendekatan ini memperkuat gagasan bahwa reuse dan performance dapat berjalan berdampingan dalam desain arsitektur kontemporer.

Dialog antara Naungan Alami dan Buatan
Selain sistem fasad upcycled, desain bangunan secara sengaja mempertahankan pepohonan existing di area Sol Collective. Alih-alih menghilangkannya demi komposisi arsitektur, vegetasi yang sudah matang menjadi bagian integral dalam strategi desain.
Hasilnya tercipta dua lapis shading:
- Naungan natural — kanopi pepohonan mengontrol tampias sinar matahari dan menciptakan microclimate yang sejuk di area publik luar.
- Naungan artificial — kisi parametrik pada fasad mendukung fungsi termal dan kenyamanan visual di area dalam.
Kombinasi ini membuat transisi luar-dalam terasa mulus dan tidak kaku, menciptakan suasana tempat (sense of place) yang jarang ditemukan pada bangunan komersial di pusat kota.

Bangunan sebagai Ekosistem Aktivitas
Lattice Garden tidak hanya bekerja untuk performa energi dan kenyamanan, namun juga mengisi peran sosial. Ruang yang terlindungi tetapi tetap terbuka mendorong aktivitas publik, berkumpul, dan bekerja secara spontan — kebutuhan nyata bagi komunitas profesional SCBD yang mobilitasnya tinggi.
Penerapan shading adaptif ini memungkinkan:
- aktivitas luar ruang tetap nyaman pada jam kerja,
- aktivitas malam hari tetap mendapat pencahayaan yang terkendali,
- fleksibilitas penggunaan ruang tanpa banyak peralatan mekanikal tambahan.
Arsitektur di sini bukan hanya wadah, tetapi perangkat yang mendukung pola hidup urban modern.

Baca Juga : Smart Home di Era Sekarang: Kebutuhan Nyata atau Sekadar Tren? | Arsitek Jogja – Rancang Reka Ruang
Sol Collective dan Evolusi Fasad Adaptif dalam Arsitektur Urban
Melalui Lattice Garden, Sol Collective menawarkan paradigma desain baru : bangunan yang hidup berdampingan dengan alam tanpa meninggalkan konteks metropolis. Kolaborasi RAD Architects × Mortier menunjukkan bahwa nature-centric architecture bukan sekadar estetika hijau, tetapi strategi teknis yang meningkatkan performa ruang, efisiensi energi, dan kualitas pengalaman pengguna.
Tim Perancang
Arsitek : RAD+ Architects
Material Partner : MORTIER, perusahaan yang mengolah limbah menjadi material desain ramah lingkungan (didirikan tahun 2017)








