Gedung Sate adalah bangunan tua terkenal yang berada di Kota Bandung. Gedung yang digunakan sebagai kantor Gubernur Jawa Barat ini berlokasi di Jalan Diponegoro Nomor 22, Kota Bandung, Jawa Barat. Pada bagian timur, gedung ini digunakan sebagai Kantor Pusat Pos dan Giro. Sementara bagian baratnya difungsikan sebagai Gedung DPRD Jawa Barat.
Sebelum mengetahui detail arsitektur gedung bersejarah ini, yuk simak terlebih dahulu sejarah pembangunannya berikut ini.
Sejarah Gedung Sate

Melansir situs Pemerintah Jawa Barat, Gedung Sate dirancang oleh tim arsitek Belanda yang dipimpin oleh Ir. J. Gerber dari Jawatan Gedung-gedung Negara (landsgebouwendients). Terdapat anggota lain yang membantunya, yaitu Ir. E.H. De Roo, Kol. Genie (Purn.), dan Ir. G. Hendriks mewakili Burgerlijke Openbare Werken (B.O.W). Ketiga anggota tersebut diketuai oleh V.L. Slor dari Genie Militair.
Baca juga: Desain Kos Industrial Minimalis 3 Lantai dengan Fasad yang Unik
Pembangunan gedung ini merupakan program pemindahan pusat militer Pemerintahan Hindia-Belanda dari Meester Cornelis ke Bandung. Pada tanggal 27 Juli 1920, gedung ini dibangun oleh anak dari B.Coops bernama Nona Johanna Catherina yang didampingi oleh Nona Petronella Roelofsen mewakili Gubernur Jenderal Batavia.
Setelah pembangunannya rampung pada tahun 1924, gedung ini dijadikan kantor Department Verkeer en Waterstaat (Departemen Pekerjaan Umum dan Pengairan). Lalu di sisi timur laut terdapat gedung Pusat Pos, Telegraf, dan Telepon (Hoofdbureau Post Telegraf en Telefoondienst).
Gedung ini menjadi saksi pertempuran masa kemerdekaan pada tanggal 3 Desember 1945, di mana ada 7 pemuda yang gugur melawan Pasukan Gurkha. Untuk mengenang jasa pahlawan tersebut, dibangun sebuah monumen peringatan di depan Gedung Sate. Pada tahun 1977, terdapat pembangunan yang serasi dan tegak menyesuaikan bentuk arsitektur Gedung. Proyek ini dikerjakan oleh arsitek bernama Ir. Sudibyo.
Baca juga: Jejak Sejarah dan Gaya Arsitektur Lawang Sewu
Detail Arsitektur Gedung Sate

Gedung Sate memiliki arsitektur yang menawan dengan gaya hybrid, memadukan gaya arsitektur Spanyol, Renaissance Italia, serta penggunaan ornamen Hindu dan Budha. Gaya Renaissance terlihat jelas pada fasad bangunan yang memiliki ukiran yang halus. Pada bagian tengah fasad, terdapat ornamen yang kontras dan unik menyerupai candi.
Terdapat dua style yang digunakan pada atap bangunan ini. Atap yang memanjang menaungi bagian depan memiliki bentuk seperti perisai. Pada bagian atap ini dilengkapi ornamen khas Hindu dan Budha. Sementara atap bagian tengah yang menonjol mengadopsi gaya atap pura atau tumpang layaknya meru di Bali dan Pagoda di Thailand.
Baca juga: Desain Interior Minimarket Industrial Modern, Auto Laris Manis!
Bagian unik atap berada pada puncak atap yang memiliki 6 ornamen. Ornamen tersebut melambangkan 6 juta gulden, sesuai dengan jumlah biaya yang digunakan dalam pembangunan gedung. Karena dari jauh terlihat seperti sate, maka masyarakat memanggil gedung ini “Gedung Sate”.
Hal unik lainnya tampak dari jendela Gedung Sate yang mengusung tema Moor Spanyol. Jendela ini memiliki bentuk seperti busur. Ternyata, jendela terbuat dari bata plester dan sengaja didesain condong ke arah luar. Jendela ini juga dilengkapi dengan kusen kayu dan kaca. Nah, untuk bagian atas jendela, mengandung gaya arsitektur Hindu dan Budha menyerupai Gupta namun dengan ukiran yang lebih sederhana.

