Close Menu
  • Homes
  • News
  • Tips
  • Info
    • Info Arsitektur
    • Info Interior
    • Info Material
    • Info Struktur
  • Figure
  • Event
  • ID
  • ENG
Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram
gravitarchigravitarchi
Subscribe
  • Homes
  • News
  • Tips
  • Info
    • Info Arsitektur
    • Info Interior
    • Info Material
    • Info Struktur
  • Figure
  • Event
  • ID
  • ENG
gravitarchigravitarchi
Home » Arsitektur Jam Gadang Bukittinggi, Landmark Sumatera Barat
Info

Arsitektur Jam Gadang Bukittinggi, Landmark Sumatera Barat

gravitarchiBy gravitarchiAugust 14, 2024Updated:August 14, 2024No Comments3 Mins Read
Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
jam gadang
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Jam Gadang dalam bahasa Minangkabau memiliki arti “jam besar”. Menara yang menjulang tinggi di Bukittinggi ini merupakan bangunan populer yang memiliki nilai sejarah yang tinggi. Monumen ini merupakan bangunan peninggalan Hindia-Belanda yang saat ini menjadi salah satu landmark di Provinsi Sumatera Barat. Mau berkunjung kesini?

Lokasinya berada di pusat kota Bukittinggi, tepatnya di tengah Taman Sabai Nan Aluh. Bukittinggi terkenal sebagai surganya wisata, mulai dari wisata alam, kuliner, hingga sejarah.

Sejarah Singkat Jam Gadang

sejarah jam gadang

Jam Gadang didirikan oleh Pemerintah Hindia-Belanda pada tahun 1926 atas perintah Ratu Wilhelmina. Menara jam ini merupakan hadiah untuk sekretaris (controleur) Kota Bukittinggi atau Fort de Kock yang bernama HR Rookmaaker. Pembangunan keselurahan menara jam ini menghabiskan dana sekitar 21.000 Gulden.

Baca juga: Istana Bogor, Perpaduan Gaya Arsitektur Eropa dengan Unsur Tropis

Keindahan arsitektur menara jam ini merupakan hasil tangan ajaib dari seorang arsitek asli Minangkabau bernama Yazid Rajo Mangkuto Sutan Gigi Ameh. Saat ini, Jam Gadang menjadi objek wisata sekaligus cagar budaya yang terdaftar dalam SK Nomor PM.05/PW.007/MKP/2010, tertanggal 8 Januari 2010.

Perubahan Gaya Arsitektur Jam Gadang

atap jam gadang bukittinggi

Jam Gadang memiliki tinggi sekitar 27 meter, menjulang tinggi di tengah taman. Terdapat 4 buah jam berdiameter 80 cm di setiap sisinya. Mengutip Indonesia Kaya, atap Jam Gadang telah mengalami perubahan sebanyak 3 kali. Desain awal atap mengadopsi gaya arsitektur Eropa yang dilengkapi patung ayam di atasnya. Memasuki era kependudukan Jepang, atap jam besar ini mengikuti style ala japanese.

Terakhir, atap diubah menjadi atap bagonjong khas Minangkabau pada masa kemerdekaan. Kemungkinan hal ini dilakukan sebagai salah satu bentuk simbolis atas kebebasan rakyat Indonesia dari belenggu penjajah. Jam besar ini menggunakan angka Romawi, namun angka 4 ditulis IIII. Mengapa demikian?

Baca juga: Rumah Japandi Minimalis dengan Dominasi Aksen Lengkung yang Unik

Penulisan IV bermakna I Victory yang berarti kemenangan dan saat itu Belanda merasa khawatir jika penulisan angka romawi tersebut dapat menumbuhkan semangat perlawanan rakyat Bukittinggi untuk mengalahkannya. Oleh karena itu, penulisannya diganti IIII.

Struktur Bangunan

jam gadang

Struktur bangunan Jam Gadang memiliki 4 tingkat, di mana tingkat pertama difungsikan sebagai ruangan bagi petugas. Selanjutnya, tingkat kedua dijadikan sebagai tempat bandul jam. Tingkat ketiga digunakan sebagai tempat mesin jam, dan tingkat keempat merupakan puncak menara untuk menaruh lonceng.

Pada bagian lonceng, tertera tulisan “Vortmann Recklinghausen”. Nama Vortmann merupakan pabrik pembuat jam, sementara Recklinghausen adalah nama sebuah kota di Jerman tempat mesin jam diproduksi pada tahun 1892.

Baca juga: Desain Interior Minimarket Industrial Modern, Auto Laris Manis!

Mesin Jam Gadang merupakan barang langka yang hanya diproduksi dua kali oleh Vortmann. Selain di Indonesia, satu unit yang masih satu tipe saat ini masih digunakan dalam menara legendaris Big Ben di London, Inggris.

arsitektur jam gadang gaya arsitektur jam gadang jam gadang jam gadang bukittinggi jam gadang di indonesia monumen jam gadang sejarah jam gadang struktur bangunan jam gadang
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
gravitarchi
  • Website

Related Posts

Lattice Garden di Sol Collective: Upcycled Parametric Facade untuk Lanskap Urban yang Lebih Adaptif

December 5, 2025

Stormproof Playground di Shaoxing University : Strategi Desain untuk Perlindungan Iklim Ekstrem

December 2, 2025

Les Choux de Créteil: Ketika Beton “Mekar” Menjadi Arsitektur Puitis di Paris

November 25, 2025
Leave A Reply Cancel Reply

Demo
Artikel Terbaru

Lattice Garden di Sol Collective: Upcycled Parametric Facade untuk Lanskap Urban yang Lebih Adaptif

December 5, 2025

Stormproof Playground di Shaoxing University : Strategi Desain untuk Perlindungan Iklim Ekstrem

December 2, 2025

Mantra 2025: The Biggest Building Material & Architecture Expo in Yogyakarta and Central Java Siap Digelar

November 26, 2025

Les Choux de Créteil: Ketika Beton “Mekar” Menjadi Arsitektur Puitis di Paris

November 25, 2025

Islamic Center of Rijeka, Kroasia : Geometri Lembut dalam Arsitektur Kontemporer

November 19, 2025

Arsitek Indonesia Raih Penghargaan TADA 2025: JS House Menjadi Building of The Year

November 17, 2025

Masjid Saminah Sihyadi, Surakarta: Ekspresi Keteduhan melalui Pendekatan Kontekstual

November 12, 2025
Demo
Demo
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
  • Kontak
  • Tentang Kami
© 2025 gravitarchi, Designed by gravitarchi.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.