Di tengah ketidakpastian praktik arsitektur hari ini—mulai dari perlambatan siklus properti, perubahan pola kerja, hingga dinamika sosial pascapandemi—arsitek dituntut untuk tidak sekadar bertahan. Ia perlu lentur, adaptif, sekaligus berani berevolusi. Dalam konteks inilah kata resilient menjadi semakin relevan.
Jumat, 13 Februari 2026, Yogyakarta Young Architects (YYAF) kembali menyelenggarakan Meeting Marathon ke-14 bertajuk “Resilient” di Empire XXI Yogyakarta, Yogyakarta. Sejak sore hingga malam hari, forum ini menghadirkan ruang temu bagi arsitek muda, praktisi, dan pelaku profesi untuk berbagi pengalaman sekaligus membaca ulang arah arsitektur hari ini.
Sebagai media partner, Gravitarchi mendokumentasikan rangkaian diskusi yang berkembang—sebuah percakapan kolektif tentang bagaimana desain, praktik, dan peran arsitek dapat tetap relevan di tengah perubahan konteks sosial dan kota.
Baca Juga : Mencatat Ulang Relasi Manusia dan Mesin : Liputan Expertise Talkshow tentang AI dan Masa Depan Kreatif
Adaptasi sebagai Titik Berangkat
Sesi pembuka dipandu oleh moderator R. Yuli Kusworo, yang mengajak peserta melihat resiliensi bukan sebagai sikap defensif, melainkan sebagai kemampuan aktif untuk menyesuaikan diri.
Pertanyaan sederhana namun mendasar dilontarkan kepada audiens:
apa yang perlu kita adaptasi, dan apa yang perlu kita revolusi dari praktik arsitektur hari ini?
Sejak awal, diskusi terasa reflektif—bahwa tantangan profesi tidak lagi bisa dijawab dengan pendekatan lama, melainkan dengan cara berpikir yang lebih terbuka dan eksperimental.

Menguatkan Peran Komunitas Profesi
Sambutan turut disampaikan oleh perwakilan Ikatan Arsitek Indonesia Regional Daerah Istimewa Yogyakarta (IAI DIY), yang diwakili oleh Ketua, Erlangga Winoto.
Erlangga menekankan pentingnya solidaritas antararsitek di tingkat lokal. Dalam situasi profesi yang terus berubah, jejaring komunitas, kolaborasi, serta peningkatan kapasitas menjadi fondasi agar arsitek tetap adaptif dan berdaya saing. Resiliensi, menurutnya, tidak dibangun sendirian, melainkan melalui dukungan kolektif.

Dukungan Industri sebagai Ekosistem
Selain ruang diskusi, Meeting Marathon juga menghadirkan dukungan dari mitra industri. LEMKRA dan SUMMIT turut berpartisipasi sebagai sponsor melalui sesi pengenalan produk.
Kehadiran keduanya menunjukkan bahwa percakapan tentang resiliensi tidak berhenti pada tataran gagasan, tetapi juga berkaitan dengan praktik material, teknologi, dan inovasi konstruksi yang mendukung kerja arsitek di lapangan. Kolaborasi antara komunitas profesi dan industri menjadi bagian penting dari ekosistem arsitektur yang lebih berkelanjutan.
Resiliensi sebagai Inovasi
Materi pertama disampaikan oleh Antonius Richard dari RAD+ar, yang menyoroti pentingnya resiliensi sebagai fondasi utama praktik arsitektur hari ini. Ia menempatkan resiliensi bukan sekadar kemampuan bertahan, melainkan sebagai bentuk inovasi yang lahir dari tekanan dan perubahan situasi.
Ia merumuskan satu gagasan kunci : resiliensi adalah inovasi.
Dalam paparannya, disampaikan bahwa pergeseran industri properti sejak beberapa tahun terakhir memaksa arsitek untuk meninjau ulang peran dan cara kerjanya. Ketergantungan pada pola praktik konvensional tidak lagi memadai. Arsitek dituntut lebih adaptif, memperluas spektrum kompetensi, serta membuka kemungkinan kolaborasi dan pendekatan lintas disiplin.
Dengan demikian, ketangguhan profesi tidak semata diukur dari kemampuan mempertahankan eksistensi, tetapi dari keberanian untuk bereksperimen, membaca konteks secara kritis, dan merumuskan strategi baru yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Resiliensi menjadi proses aktif untuk terus berevolusi, bukan sekadar bertahan dalam ketidakpastian.

Arsitektur dalam Ekosistem yang Lebih Luas
Perspektif tersebut dilanjutkan oleh Achmad D. Tardiyana dari URBANE Indonesia. Alih-alih memusatkan perhatian pada proyek yang telah terbangun, ia justru menekankan pentingnya gagasan, spekulasi desain, dan pembacaan kritis terhadap konteks sebagai landasan kerja arsitektur.
Baginya, arsitektur tidak dapat berdiri sebagai objek tunggal yang terlepas dari lingkungannya. Setiap intervensi spasial selalu berkelindan dengan dinamika sosial, ekonomi, dan keseharian warga. Karena itu, proses merancang perlu dimulai dari pemahaman ekosistem yang lebih luas—bagaimana ruang bekerja, siapa yang menggunakannya, serta nilai apa yang dihasilkan bagi kehidupan bersama.
Melalui pendekatan tersebut, arsitektur diposisikan bukan semata sebagai produksi bangunan, melainkan sebagai instrumen yang membentuk kualitas hidup. Ruang-ruang ramah anak, ruang publik yang mendorong interaksi, hingga kolaborasi lintas disiplin seperti perencanaan kota dan lanskap menjadi cara untuk memperluas dampak praktik arsitektur. Di titik ini, desain tidak lagi berhenti pada wujud fisik, tetapi berperan aktif dalam merawat relasi sosial dan keberlanjutan lingkungan.

Ruang Bertemu, Ruang Bertumbuh di Meeting Marathon YYAF Resilient
Memasuki sesi tanya jawab, percakapan berkembang lebih cair sekaligus kritis. Pertanyaan tentang masa depan profesi, strategi bertahan bagi studio kecil, hingga peluang kolaborasi lintas disiplin mengemuka silih berganti. Diskusi pun bergeser, dari pengalaman personal menuju persoalan yang lebih struktural—tentang keberlanjutan praktik, perubahan model kerja, dan cara arsitek menempatkan diri di tengah dinamika sosial serta spasial yang terus bergeser.
Pada saat yang sama, suasana ini menunjukkan bahwa forum semacam ini tidak hanya menjadi panggung presentasi, melainkan ruang negosiasi gagasan. Melalui dialog terbuka tersebut, peserta saling membaca kondisi profesi, bertukar strategi, sekaligus memperluas jejaring kerja yang selama ini berjalan terpisah.
Kebutuhan akan ruang percakapan kolektif inilah yang sejak awal melatarbelakangi lahirnya Yogyakarta Young Architects Forum. Karena itu, Meeting Marathon dirawat sebagai medium temu lintas generasi—arsitek, desainer, perencana, hingga pelaku kota—untuk memperkuat ekosistem praktik secara bersama, bukan berjalan sendiri-sendiri.
Menjelang penutupan, acara turut dihadiri oleh Judy Pranata, inisiator YYAF, yang memberikan penutup singkat sekaligus mengapresiasi konsistensi forum ini dalam menjaga ruang dialog antarpraktisi arsitektur di Yogyakarta.
Baca Juga : Rumah Tinggal Dua Lantai di Klaten: Open Plan, Jalur Samping, dan Keterbukaan Kontekstual







Catatan Gravitarchi
Tema “Resilient” menjadi benang merah yang merangkai keseluruhan diskusi sepanjang malam. Ketangguhan arsitektur dipahami bukan sekadar kemampuan bertahan, melainkan kapasitas untuk terus beradaptasi—membaca perubahan, menegosiasikan batas praktik, dan menemukan cara-cara baru dalam merespons konteks yang terus bergerak.
Melalui rangkaian percakapan dalam Meeting Marathon ke-14 yang digagas oleh Yogyakarta Young Architects Forum, resiliensi hadir sebagai praktik yang hidup: tumbuh dari dialog, pertukaran pengetahuan, dan pertemuan lintas generasi. Forum semacam ini menjaga diskursus arsitektur tetap berjalan, sekaligus membuka ruang bagi kemungkinan-kemungkinan baru yang lahir dari kebersamaan.





