Close Menu
  • Homes
  • News
  • Tips
  • Info
    • Info Arsitektur
    • Info Interior
    • Info Material
    • Info Struktur
  • Figure
  • Event
  • ID
  • ENG
Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram
gravitarchigravitarchi
Subscribe
  • Homes
  • News
  • Tips
  • Info
    • Info Arsitektur
    • Info Interior
    • Info Material
    • Info Struktur
  • Figure
  • Event
  • ID
  • ENG
gravitarchigravitarchi
Home » Kamal Ismail: Arsitek yang Menggarap Perluasan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi
Figure

Kamal Ismail: Arsitek yang Menggarap Perluasan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi

gravitarchiBy gravitarchiSeptember 16, 2024No Comments3 Mins Read
Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Kamal Ismail
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Mohamed Kamal Ismail adalah arsitek asal Mesir yang lahir pada 13 September 1908 yang mengawasi dan membuat desain perluasan Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Ismail dipercaya dan dipilih langsung oleh Raja Fahd bin Abdul Aziz untuk proyek besar tersebut.

Selama menempuh pendidikan, ia dikenal sebagai seorang jenius dan selalu menjadi lulusan termuda di angkatannya. Bahkan, ia juga mendapatkan tiga gelar doktor di bidang Arsitektur Islam. Dia menikah pada usia 44 tahun dan istrinya meninggal setelah melahirkan putranya. Semenjak peristiwa tersebut, ia tetap melajang dan mengabdikan seluruh hidupnya untuk beribadah.

Baca juga: 3 Masjid yang Pernah Disinggahi Nabi Muhammad SAW

Kamal Ismail Pencetus Penggunaan Marmer Putih

masjidil haram

Pemugaran Masjidil Haram merupakan proyek terbesar di sekitar abad ke-14. Dalam proyek tersebut, terdapat penambahan 3 menara, tenda di Mataf, mengganti lantai marmer, hingga mengaspal jalur atau akses antara Safa dan Marwah.

Saat merancang Masjidil Haram, Ismail mencetuskan ide untuk menggunakan marmer putih untuk melapisi lantai yang dipakai untuk tawaf. Marmer ini anti panas dan pada saat itu hanya ada di Yunani. Demi mewujudkan desain arsitekturnya, ia melakukan perjalanan ke Yunani dan membeli marmer dengan jumlah yang cukup untuk melapisi seluruh lantai Masjidil Haram.

Setelah 15 tahun, pemerintah Arab Saudi kembali menghubungi Kamal Ismail dan meminta jenis marmer putih serupa untuk melapisi lantai Masjid Nabawi. Mendengar permintaan tersebut, Ismail cukup bingung karena tempat produksi marmer tersebut hanya ada satu di Yunani.

Meski demikian, ia langsung bergegas ke perusahaan marmer tersebut dan meminta untuk bertemu dengan pimpinan perusahaan. Sayangnya, ternyata marmer yang pernah ia beli 15 tahun silam sudah terjual habis.

Saat akan meninggalkan kantor, ia tak sengaja bertemu dengan sekretaris perusahaan tersebut dan memintanya memberitahu keberadaan pembeli terakhir yang membeli marmer putih yang sama dengannya. Sekretaris tersebut mengatakan sulit untuk mencari data pembeli tersebut karena transaksi yang dilakukannya sudah lebih dari satu dekade.

Baca juga: Menyatukan Keindahan Tradisional dan Modern dalam Desain Masjid YTCS

Ajaibnya, keesokan harinya sekretaris tersebut menghubunginya karena menemukan alamat pembeli terakhir. Ismail langsung menuju alamat tersebut dan ternyata yang membeli sisa marmer putih adalah perusahaan asal Arab Saudi.

Sesampainya di perusahaan, ia menanyakan keberadaan marmer yang dibeli 15 tahun silam digunakan untuk keperluan apa. Direktur perusahaan mengaku tidak mengetahui keberadaan marmer tersebut. Kemudian sang direktur menghubungi stafi di bagian ruang stok perusahaan.

Ternyata selama 15 tahun, marmer tersebut masih tersimpan rapi di gudang perusahaan dan jumlahnya sesuai dengan jumlah marmer yang dibutuhkan Ismail untuk melapisi lantai Masjid Nabawi. Saat menyodorkan cek kosong, direktur perusahaan menolak dengan sopan dan memberikan marmer secara sukarela.

Kamal Ismail Menolak Dibayar

Selama mengerjakan proyek perluasan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, Kamal Ismail menolak dibayar sepeser pun meski sudah didesak oleh Raja Fahd. Menurutnya, ia tidak berhak mengambil upah dari pekerjaan di tempat paling suci di dunia. Ismail merasa tidak pantas dan malu saat menghadap Allah di Hari Penghakiman (kiamat) jika ia menerima upah atas pekerjaanya tersebut.

Baca juga: Interior Modern Minimalis dengan Kesan Natural dan Homey

Belajar dari arsitek Kamal Ismail, ia sangat menikmati dan mengusahakan pekerjaannya berjalan dengan baik meskipun banyak hal yang harus dilaluinya. Meski demikian, akhirnya usaha dan kerja kerasnya berbuah manis karena semua yang dilakukannya selalu ia sandarkan pada Tuhannya.

arsitek kamal ismail arsitek masjid nabawi arsitek masjidil haram kamal ismail kamal ismail menolak bayaran marmer masjidil haram masjid nabawi masjidil haram payung hidrolik masjid nabawi perluasan masjidil haram renovasi masjid nabawi
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
gravitarchi
  • Website

Related Posts

Y.B. Mangunwijaya (Romo Mangun) dan Arsitektur Sosial di Indonesia

February 6, 2026

Kisho Kurokawa : Metabolisme Jepang dan Gagasan Arsitektur Adaptif

February 5, 2026

Frank Gehry dan Pemberontakan Terakhir dalam Arsitektur

January 21, 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Demo
Artikel Terbaru

Mencatat Ketangguhan Praktik Arsitektur lewat Meeting Marathon YYAF Resilient di Yogyakarta

February 17, 2026

Mencatat Ulang Relasi Manusia dan Mesin : Liputan Expertise Talkshow tentang AI dan Masa Depan Kreatif

February 16, 2026

New Science and Technology Museum of Henan Province — Arsitektur Sains sebagai Lanskap Publik

February 7, 2026

Y.B. Mangunwijaya (Romo Mangun) dan Arsitektur Sosial di Indonesia

February 6, 2026

Kisho Kurokawa : Metabolisme Jepang dan Gagasan Arsitektur Adaptif

February 5, 2026

RM. Pantjaran, Sleman: Rumah Makan dengan Pendekatan Ruang Terbuka dan Tata Massa Linear

January 29, 2026

Tiga by Kanca : Merancang Pengalaman Ruang melalui Arsitektur Slow Bar

January 26, 2026
Demo
Demo
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
  • Kontak
  • Tentang Kami
© 2026 gravitarchi, Designed by gravitarchi.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.