Terletak di tebing Nusa Penida, Intaaya Retreat dirancang sebagai destinasi wellness yang mengintegrasikan arsitektur, lanskap, dan sistem berkelanjutan dalam satu kesatuan pengalaman ruang. Proyek karya Pablo Luna Studio ini tidak menempatkan bangunan sebagai objek dominan, melainkan sebagai bagian dari ekosistem alam yang bekerja secara aktif dan sadar lingkungan.
Alih-alih menonjolkan kemewahan visual, Intaaya mengedepankan kualitas ruang yang tenang, terukur, dan berorientasi pada keberlanjutan jangka panjang.
Baca Juga : Villa Savoye : Manifesto Arsitektur Modern karya Le Corbusier
Pendekatan Desain: Arsitektur yang Dibangun dengan Tujuan
Intaaya dirancang dengan pendekatan purpose-driven architecture, di mana setiap keputusan material dan sistem konstruksi memiliki peran ekologis yang jelas. Bangunan tidak hanya memenuhi fungsi akomodasi, tetapi juga berkontribusi terhadap siklus alam di sekitarnya.
Strategi ini terlihat dari pemilihan material alami dan teknik konstruksi rendah emisi yang meminimalkan ketergantungan pada beton dan material industri berat.

Strategi Lingkungan dan Material Alami
Penggunaan material di Intaaya berangkat dari prinsip lokalitas, daya tahan, dan jejak karbon rendah:
- Kayu jati daur ulang
Berasal dari bangunan joglo lama di Jawa dan Bali, digunakan untuk elemen struktur dan interior. - Bambu lokal
Diproses dan dibentuk oleh pengrajin Bali, menjadi elemen utama pada struktur atap dan fasad. - Rammed earth
Digunakan pada dinding dan lantai sebagai alternatif semen dan beton, sekaligus meningkatkan performa termal bangunan. - Batu kapur lokal
Bersumber langsung dari lokasi proyek, memberikan karakter tekstur sekaligus kekuatan struktural.
Material tidak diperlakukan sebagai lapisan estetika, melainkan sebagai bagian integral dari performa bangunan.





Ruang Wellness sebagai Sistem Hidup
Intaaya dirancang sebagai lingkungan hidup yang aktif, di mana sistem bangunan menjadi bagian dari pengalaman ruang. Air dikumpulkan dari kelembapan udara, limbah organik diproses untuk mendukung lanskap, dan sirkulasi udara alami dioptimalkan melalui orientasi bangunan.
Pendekatan ini memungkinkan pengunjung mengalami kualitas ruang yang lebih reflektif dan terarah, tanpa terputus dari konteks alam sekitarnya.
Arsitektur Komunal dan Ruang Bersama
Selain ruang privat, Intaaya membuka dirinya melalui area komunal yang mendorong interaksi dan keterhubungan. Tata ruang dirancang untuk mendukung pertemuan, dialog, dan aktivitas bersama, tanpa menghilangkan rasa tenang yang menjadi karakter utama retreat.
Relasi antara manusia, material, dan lanskap dibangun secara seimbang, menciptakan rasa keterikatan yang kuat terhadap tempat.


Inspirasi Bentuk dan Biomimikri
Bahasa arsitektur Intaaya terinspirasi oleh dinamika laut dan organisme laut, terutama melalui struktur bambu yang melengkung dan mengalir. Pendekatan biomimikri ini tidak diterapkan secara simbolik, melainkan sebagai strategi struktural dan spasial yang merespons angin, cahaya, dan topografi tebing.
Hasilnya adalah komposisi bangunan yang menyatu dengan lanskap, tanpa kehilangan kejelasan arsitektural.
Baca Juga : DE House di Magelang : Eksplorasi Rumah Modern Industrial di Tengah Lanskap Sawah

Informasi Proyek
Architect : Pablo Luna Studio
Lokasi : Nusa Penida, Bali, Indonesia
Fungsi : Wellness retreat
Program Ruang : Akomodasi, spa, yoga shala, ruang komunal, fasilitas wellness

