Close Menu
  • Homes
  • News
  • Tips
  • Info
    • Info Arsitektur
    • Info Interior
    • Info Material
    • Info Struktur
  • Figure
  • Event
  • ID
  • ENG
Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram
gravitarchigravitarchi
Subscribe
  • Homes
  • News
  • Tips
  • Info
    • Info Arsitektur
    • Info Interior
    • Info Material
    • Info Struktur
  • Figure
  • Event
  • ID
  • ENG
gravitarchigravitarchi
Home » Mencatat Ulang Relasi Manusia dan Mesin : Liputan Expertise Talkshow tentang AI dan Masa Depan Kreatif
Event

Mencatat Ulang Relasi Manusia dan Mesin : Liputan Expertise Talkshow tentang AI dan Masa Depan Kreatif

gravitarchiBy gravitarchiFebruary 16, 20261 Comment4 Mins Read
Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Sebagai media arsitektur, Gravitarchi meliput RASANRASAN: Expertise Talkshow — AI dan masa depan kreatif yang diselenggarakan oleh Gelora Inovasi Kreatif UGM bersama Galeri Bulaksumur dan Sedekat Imaji Rupa. Forum lintas disiplin ini mempertemukan akademisi, praktisi teknologi, dan pelaku seni untuk mendiskusikan peran AI dalam riset, desain, etika, praktik lapangan, hingga keadilan sosial.

Kecerdasan buatan (AI) kini tak lagi sebatas wacana teknologi. Perlahan, ia menjadi bagian dari praktik kreatif sehari-hari. Teknologi ini hadir di studio desain, ruang kelas, hingga proses riset. Akibatnya, cara ide diuji, divisualisasikan, dan diproduksi pun berubah.

Bagi arsitektur, perubahan tersebut terasa nyata. Pertanyaannya bukan lagi apakah AI akan digunakan, melainkan bagaimana kita bekerja bersamanya. Lalu, ketika mesin semakin cerdas, di mana posisi manusia sebagai kreator? Diskusi ini sekaligus menegaskan bahwa percakapan tentang AI dan masa depan kreatif bukan lagi isu teknis semata, melainkan persoalan cara manusia bekerja, berpikir, dan berkolaborasi.

Baca Juga : Mantra 2025 : Ruang Temu Arsitektur, Material, dan Kolaborasi Industri di Yogyakarta

AI sebagai Perpanjangan Proses Kreatif

Diskusi dipandu oleh Rangga Aditya Dachlan, dosen Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada. Ia menjaga percakapan tetap kritis sekaligus kontekstual, terutama saat pembahasan menyentuh etika dan tanggung jawab penggunaan teknologi.

Sementara itu, Arwan Khoiruddin, programmer sekaligus CEO PT Mandatech dan akademisi Universitas Islam Indonesia, memosisikan AI dalam sejarah panjang revolusi industri. Menurutnya, setiap gelombang teknologi selalu mengubah cara manusia bekerja—mulai dari peralihan paper-based ke paperless hingga internet yang menggantikan distribusi fisik.

Karena itu, ia melihat AI sebagai fase baru yang bersifat general. AI bukan sekadar alat bantu, tetapi sistem yang mampu belajar melalui algoritma transformer dan jaringan saraf tiruan. Alih-alih menggantikan profesi kreatif, teknologi ini justru dapat mempercepat eksplorasi dan mengoptimalkan proses desain.

Mengarsipkan Ingatan Lokal dengan Teknologi

Selain pendekatan teknis, perspektif kontekstual disampaikan oleh Gustav Anandhita, Founder AI Nusantara. Ia menyoroti minimnya dokumentasi sejarah dan kebudayaan lokal. Dari situ, ia melihat AI sebagai medium pengarsipan.

Dengan bantuan teknologi, visual dan pengetahuan yang tercecer dapat direkonstruksi kembali. Bahkan, perkembangan AI dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan peningkatan kualitas yang signifikan—dari keluaran gambar yang generik menjadi semakin presisi dan spesifik.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa kecanggihan mesin tetap harus diimbangi literasi kritis. AI bukan sumber kebenaran. Ia hanyalah alat bantu. Pada akhirnya, manusialah yang memegang kendali tafsir.

Kreativitas, Akses, dan Kesenjangan Sosial

Dari sudut pandang sosial, Oki Rahadianto, sosiolog dan Associate Professor di Universitas Gadjah Mada sekaligus Direktur YouSure, mengingatkan bahwa proses kreatif tidak pernah sepenuhnya netral. Ia selalu dipengaruhi oleh struktur akses—siapa yang memiliki teknologi, pengetahuan, dan sumber daya untuk memanfaatkannya.

Jika distribusi teknologi tidak merata, AI berpotensi memperlebar kesenjangan alih-alih mempersempitnya. Dalam konteks ini, pertanyaan tentang masa depan kreatif bukan semata soal inovasi teknis, tetapi juga soal keadilan sosial: siapa yang diuntungkan, dan siapa yang tertinggal. Bagi Oki, teknologi seharusnya dibaca bukan hanya sebagai alat produksi, melainkan sebagai bagian dari ekosistem sosial yang menentukan peluang dan partisipasi.

Baca Juga : Smart Home di Era Sekarang: Kebutuhan Nyata atau Sekadar Tren? | Arsitek Jogja – Rancang Reka Ruang

Hak Cipta dan Batas Kepemilikan di Era AI

Isu kepemilikan kemudian mengemuka melalui pandangan Laurensia Andrini, akademisi hukum bisnis dari Universitas Gadjah Mada, yang menyoroti dimensi Hak Kekayaan Intelektual—mulai dari hak cipta, merek, hingga paten—dalam lanskap kreatif berbasis teknologi.

Dalam arsitektur, yang secara hukum diposisikan sebagai karya cipta, relasi antara pencipta dan karya selama ini relatif jelas: ada subjek manusia yang merancang, menggambar, dan memutuskan. Namun ketika proses tersebut melibatkan sistem AI—yang turut menghasilkan visual, data, bahkan alternatif desain—batas antara alat dan pencipta menjadi kabur.

Jika karya dihasilkan melalui kolaborasi manusia dan mesin, siapa yang benar-benar memiliki hasil akhirnya? Siapa yang berhak mengklaim kepengarangan? Dan sejauh mana data yang digunakan untuk melatih sistem tersebut diperoleh secara legal dan etis?

Di tengah regulasi AI di Indonesia yang masih berkembang, pertanyaan-pertanyaan ini belum menemukan jawaban pasti. Justru di situlah urgensinya: praktik kreatif perlu berjalan beriringan dengan kesadaran hukum, agar inovasi tidak melampaui perlindungan hak maupun tanggung jawab publik.

Pada akhirnya, talkshow ini tidak menawarkan kesimpulan tunggal, melainkan serangkaian pertanyaan yang terus terbuka. Tentang bagaimana kita bekerja dengan mesin, bukan melawannya. Tentang bagaimana teknologi dapat memperluas kemungkinan, tanpa menghapus sensitivitas manusia di dalamnya.

Bagi arsitektur dan praktik kreatif, AI mungkin akan menjadi alat yang semakin canggih—lebih cepat, lebih presisi, lebih produktif. Namun kreativitas tetap lahir dari intuisi, empati, dan kemampuan membaca konteks, hal-hal yang tak sepenuhnya dapat direplikasi algoritma. Ketika mesin semakin cerdas, justru manusialah yang dituntut semakin sadar, kritis, dan bertanggung jawab atas keputusan kreatifnya.

Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
gravitarchi
  • Website

Related Posts

Menuju Jakal Design Week 2026 : Awal Kolaborasi di Koridor Jalan Kaliurang

April 15, 2026

Mencatat Ketangguhan Praktik Arsitektur lewat Meeting Marathon YYAF Resilient di Yogyakarta

February 17, 2026

Kelas Sabtu “Arsitektur 10.000 Jam” Bagian 2

January 20, 2026

1 Comment

  1. Pingback: Meeting Marathon YYAF Resilient | Forum Arsitektur

Demo
Artikel Terbaru

Menuju Jakal Design Week 2026 : Awal Kolaborasi di Koridor Jalan Kaliurang

April 15, 2026

Bernard Tschumi dan Ruang yang Terus Bergerak

April 14, 2026

Belajar Arsitektur Kontekstual dari Eko Prawoto

April 9, 2026

Solar Trees Marketplace — Arsitektur Pasar sebagai Lanskap oleh Koichi Takada

April 7, 2026

Bjarke Ingels dan Pragmatic Utopia : Ketika Arsitektur Menjadi Negosiasi Realitas

April 2, 2026

Yoyogi National Gymnasium — Struktur Tarik sebagai Strategi Ruang Publik

February 20, 2026

Mencatat Ketangguhan Praktik Arsitektur lewat Meeting Marathon YYAF Resilient di Yogyakarta

February 17, 2026
Demo
Demo
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
  • Kontak
  • Tentang Kami
© 2026 gravitarchi, Designed by gravitarchi.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.