Close Menu
  • Homes
  • News
  • Tips
  • Info
    • Info Arsitektur
    • Info Interior
    • Info Material
    • Info Struktur
  • Figure
  • Event
  • ID
  • ENG
Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram
gravitarchigravitarchi
Subscribe
  • Homes
  • News
  • Tips
  • Info
    • Info Arsitektur
    • Info Interior
    • Info Material
    • Info Struktur
  • Figure
  • Event
  • ID
  • ENG
gravitarchigravitarchi
Home » Masjid Menara Kudus, Keindahan Akulturasi 3 Budaya
Info

Masjid Menara Kudus, Keindahan Akulturasi 3 Budaya

gravitarchiBy gravitarchiAugust 29, 2024No Comments3 Mins Read
Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
masjid menara kudus
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Masjid Menara Kudus memiliki arsitektur yang unik, menggabungkan toleransi budaya Jawa, Hindu-Buddha, dan Islam. Masjid kudus dibangun oleh Syekh Jafar Shodiq atau Sunan Kudus pada tahun 1685. Hal ini merujuk pada tulisan Arab yang tertulis pada sebidang batu Masjid Kudus atau Masjid Al Aqsha dengan panjang 46 cm dan lebar 30 cm. Dari tulisan tersebut, masjid dibangun pada tahun 956 H dalam penanggalan (kalender) islam.

Konon katanya batu tersebut berasal dari Baitul Maqdis atau Al Quds, Yerussalem, Palestina. Baitul Maqdis adalah kota suci, hal ini merujuk pada penamaan “kudus” yang artinya suci. Penamaan kudus juga disematkan pada kota di mana masjid tersebut dibangun.

Baca juga: Arsitektur Gedung Balai Pemuda, Tongkrongan Para Elite Kolonial

Daya Pikat Menara Kudus

masjid menara kudus, jawa tengah

Menara Kudus merupakan bagian dari masjid Al Aqsha atau yang lebih dikenal dengan masjid kudus. Menara yang dibuat tahun 1895 M ini memiliki desain layaknya candi yang identik dengan kebudayaan Hindu. Hal ini tampak dari desain menara yang mirip dengan Candi Kidal di Jawa Timur.

Menara ini memiliki ketinggian 18 meter dengan ukuran dasar bangunan 10 x 10 meter. Menara dikelilingi oleh 32 buah piringan, di mana 20 di antaranya berwarna biru, berlukiskan manusia dengan unta, masjid, serta pohon kurma. Lalu 12 buah sisanya berwarna merah putih yang berlukiskan kembang atau bunga.

Baca juga: Desain Renovasi Rumah Industrial 2 Lantai dengan Budget Minimalis

Hal yang paling jelas memperlihatkan perpaduan Hindu-Buddha dan Jawa terletak pada struktur bangunan yang terdiri dari 3 bagian, yaitu bagian kaki, badan, dan puncak bangunan. Kesinambungan antara budaya Jawa dan Hindu-Buddha juga tampak pada penggunaan batu bata yang ditata sedemikan rupa tanpa menggunakan semen dan material kayu jati di atap tajug. Bagian atap terdapat mustaka seperti puncak atap tumpang yang ada pada masjid tradisional di Jawa.

Puncak menara terdapat ruangan berlantai papan yang ditopang 4 pilar kayu, di mana salah satunya terdapat inskripsi bertuliskan huruf jawa dalam bahasa Jawa. Tulisan tersebut berbunyi “Gapura Rusak Ewahing Jagad”. Ruangan ini digunakan sebagai tempat mengumandangkan adzan yang dilengkapi dengan bedug.

Masjid Al-Aqsha Manarat Qudus

masjid kudus

Masjid Menara Kudus memiliki 2 kubah kecil dan 1 kubah besar yang terdiri dari tajug dua tingkat dengan 4 kolom penopang di bagian serambi. Terdapat gapura paduraksa di bagian serambi masjid, mencerminkan gaya arsitektur Hindu. Masyarakat setempat menyebut gapura tersebut lawang kembar atau pintu kembar yang konon katanya berasal dari bekas peninggalan kerajaan Majapahit.

Masjid ini punya lima pintu di sebelah kanan dan kirinya dengan 4 buah jendela. Masjid sempat direnovasi pada tahun 1918-an, sehingga ukurannya lebih besar. Komplek masjid punya 8 pancuran untuk berwudhu yang di atasnya diletakkan arca. Konon angka 8 menurut keyakinan Buddha memiliki arti “Delapan Jalan Menuju Kebenaran” atau Asta Sanghika Marga. Tempat wudhu ini memiliki panjang 12 meter, lebar 4 meter, dan tinggi 3 meter.

Baca juga: Desain Interior Rumah Industrial Japandi, Bikin Betah di Rumah

Di kawasan Masjid Menara Kudus terdapat makan Sunan Kudus, istrinya, dan ulama besar lainnya. Dakwah Sunan Kudus sangat mengedepankan toleransi dan tidak mau menyakiti hati umat Hindu. Karena hal ini, maka Sunan Kudus melarang umat Islam di Kudus menyembelih sapi. Sebagai gantinya, mereka memakai daging kerbau. Hal inilah yang melatarbelakangi kenapa makanan khas Kudus mayoritas menggunakan daging kerbau.

makam sunan kudus masjid kudus masjid menara kudus menara kudus sejarah masjid menara kudus sunan kudus Syekh Jafar Shodiq
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
gravitarchi
  • Website

Related Posts

Bernard Tschumi dan Ruang yang Terus Bergerak

April 14, 2026

Solar Trees Marketplace — Arsitektur Pasar sebagai Lanskap oleh Koichi Takada

April 7, 2026

Yoyogi National Gymnasium — Struktur Tarik sebagai Strategi Ruang Publik

February 20, 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Demo
Artikel Terbaru

Bernard Tschumi dan Ruang yang Terus Bergerak

April 14, 2026

Belajar Arsitektur Kontekstual dari Eko Prawoto

April 9, 2026

Solar Trees Marketplace — Arsitektur Pasar sebagai Lanskap oleh Koichi Takada

April 7, 2026

Bjarke Ingels dan Pragmatic Utopia : Ketika Arsitektur Menjadi Negosiasi Realitas

April 2, 2026

Yoyogi National Gymnasium — Struktur Tarik sebagai Strategi Ruang Publik

February 20, 2026

Mencatat Ketangguhan Praktik Arsitektur lewat Meeting Marathon YYAF Resilient di Yogyakarta

February 17, 2026

Mencatat Ulang Relasi Manusia dan Mesin : Liputan Expertise Talkshow tentang AI dan Masa Depan Kreatif

February 16, 2026
Demo
Demo
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
  • Kontak
  • Tentang Kami
© 2026 gravitarchi, Designed by gravitarchi.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.