Di tengah perkembangan arsitektur Indonesia, setiap arsitek memiliki pendekatan yang berbeda dalam memaknai proses merancang. Sebagian dikenal melalui bahasa bentuk yang khas, sementara yang lain membangun identitas melalui eksplorasi material atau teknologi. Bagi Ary Indra, arsitektur tampaknya berangkat dari sesuatu yang lebih mendasar, yaitu bagaimana sebuah ruang mampu menghadirkan pengalaman yang bermakna bagi penggunanya.
Kesan tersebut kami rasakan saat mengunjungi Masagi Koffee di kawasan Selojene, salah satu karya Ary Indra. Di balik tampilannya yang sederhana, ruang tersebut memperlihatkan bagaimana material, fungsi, dan detail dirancang saling mendukung tanpa terasa berlebihan. Pengalaman itu menjadi titik awal bagi kami untuk mengenal lebih jauh sosok Ary Indra, sekaligus memahami cara pandangnya terhadap arsitektur.
Selama lebih dari dua dekade berkarya, Ary Indra tidak hanya dikenal sebagai salah satu pendiri Aboday, tetapi juga sebagai arsitek, kurator, penulis, dan pengajar yang aktif mendorong diskusi mengenai arsitektur Indonesia. Melalui karya-karya maupun berbagai inisiatif yang ia kembangkan, terlihat sebuah benang merah yang konsisten: arsitektur bukan sekadar menciptakan bangunan, tetapi membangun hubungan antara manusia, ruang, dan lingkungannya.
Baca Juga : Antonius Richard dan Upaya Mendekatkan Arsitektur Berkelanjutan
Lebih dari Seorang Pendiri Aboday
Bagi banyak kalangan arsitektur di Indonesia, nama Ary Indra identik dengan Aboday, biro arsitektur yang didirikannya bersama Rafael David dan Johansen Yap pada tahun 2006. Sejak awal berdiri, Aboday berkembang menjadi salah satu studio yang dikenal melalui pendekatan desain yang kontekstual, terbuka terhadap eksplorasi, dan tidak terpaku pada satu bahasa visual tertentu.
Sebelum mendirikan Aboday, Ary Indra sempat meniti karier di Singapura setelah menyelesaikan pendidikan arsitektur di Universitas Brawijaya. Pengalaman bekerja di lingkungan profesional internasional memberikan sudut pandang baru mengenai praktik arsitektur, mulai dari proses perancangan hingga cara sebuah proyek dijalankan. Bekal tersebut kemudian dibawa kembali ke Indonesia ketika ia memutuskan membangun praktik arsitekturnya sendiri.
Namun, perjalanan Ary Indra tidak berhenti sebagai praktisi yang menghasilkan bangunan. Dalam perkembangannya, ia juga aktif sebagai penulis, pembicara, dan pengajar yang kerap membagikan pandangannya mengenai arsitektur kepada mahasiswa maupun praktisi muda. Keterlibatannya sebagai Lead Curator Paviliun Indonesia pada Venice Architecture Biennale 2018 menjadi salah satu bukti bahwa kontribusinya tidak hanya berada di ranah praktik, tetapi juga dalam membangun wacana arsitektur Indonesia di tingkat internasional.
Beberapa tahun terakhir, arah eksplorasi tersebut berkembang melalui Sahabat Selojene, sebuah kawasan yang memadukan arsitektur, lanskap, seni, dan hospitality dalam satu ekosistem. Tempat ini bukan sekadar kumpulan bangunan, melainkan ruang yang mendorong interaksi, kolaborasi, dan pengalaman yang lebih dekat dengan alam. Melalui Selojene, terlihat bahwa ketertarikan Ary Indra tidak lagi berhenti pada bagaimana sebuah bangunan dirancang, tetapi juga pada bagaimana sebuah tempat mampu membangun hubungan yang lebih bermakna dengan penggunanya.
Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa bagi Ary Indra, arsitektur merupakan disiplin yang terus berkembang. Bangunan menjadi salah satu medium, tetapi bukan satu-satunya tujuan.

Tidak Terikat pada Satu Gaya
Dalam dunia arsitektur, banyak nama besar akhirnya dikenal melalui gaya desain yang khas. Sebuah bangunan dapat dikenali hanya dari bentuk atapnya, pilihan materialnya, atau komposisi fasadnya. Pendekatan seperti ini sering kali membentuk apa yang dikenal sebagai signature style.
Ary Indra justru mengambil jalan yang berbeda.
Dalam beberapa kesempatan, ia menyampaikan bahwa dirinya tidak ingin terikat pada satu gaya desain tertentu. Baginya, setiap proyek memiliki karakter, tantangan, dan konteks yang berbeda sehingga tidak dapat dijawab melalui pendekatan yang sama. Sebuah karya seharusnya lahir dari pemahaman terhadap tempat, kebutuhan pengguna, dan kondisi yang melingkupinya, bukan dari keinginan mengulang identitas visual sang arsitek.
Pandangan tersebut membuat karya-karyanya memiliki ekspresi yang beragam. Hunian, ruang komersial, hingga proyek hospitality yang ia rancang tidak selalu menampilkan bahasa bentuk yang serupa. Namun, jika diamati lebih dalam, terdapat benang merah yang konsisten: setiap proyek berusaha merespons konteksnya secara spesifik.
Pendekatan ini menjadi menarik di tengah kecenderungan arsitektur kontemporer yang sering kali menempatkan bentuk sebagai pusat perhatian. Ary Indra justru memperlihatkan bahwa identitas seorang arsitek tidak harus dibangun melalui bentuk yang terus diulang. Sebaliknya, identitas dapat tumbuh dari cara berpikir yang konsisten dalam membaca persoalan dan menemukan solusi yang paling sesuai bagi setiap proyek.
Bagi Ary Indra, relevansi tampaknya lebih penting daripada pengulangan. Ketika konteks berubah, maka arsitektur pun perlu ikut berkembang.
Baca Juga : Memaknai Sintesis dalam Arsitektur : Refleksi dari ARCH:ID 2026

Merancang Pengalaman, Bukan Sekadar Bangunan
Jika ada satu benang merah yang dapat ditarik dari perjalanan Ary Indra, mungkin bukan bentuk bangunannya yang paling mudah dikenali, melainkan cara ruang tersebut menghadirkan pengalaman.
Pendekatan ini terasa konsisten dalam berbagai eksplorasi yang ia lakukan. Ruang tidak dipahami sebagai objek yang berdiri sendiri, melainkan sebagai tempat yang membentuk interaksi antara manusia, alam, dan aktivitas yang berlangsung di dalamnya. Karena itu, keputusan desain tidak hanya berkaitan dengan komposisi massa bangunan, tetapi juga bagaimana cahaya memasuki ruang, bagaimana material menua seiring waktu, hingga bagaimana pengguna bergerak dan merasakan suasana sebuah tempat.
Cara pandang tersebut membuat karya-karyanya sulit dikenali hanya melalui tampilan visual. Sebuah hunian dapat memiliki karakter yang berbeda dengan ruang komersial atau proyek hospitality. Namun, semuanya memperlihatkan perhatian yang sama terhadap kualitas pengalaman ruang.
Dalam beberapa wawancara, Ary Indra juga menyinggung bahwa ia tidak ingin terjebak pada pencarian bentuk yang terus diulang. Baginya, setiap proyek memiliki cerita dan konteks yang berbeda. Karena itu, proses merancang selalu dimulai dengan memahami tempat, bukan menghadirkan bentuk yang telah menjadi identitas pribadi.
Pendekatan seperti ini membuat arsitektur hadir secara lebih tenang. Bangunan tidak selalu berusaha menjadi pusat perhatian, tetapi memberikan ruang bagi penggunanya untuk membangun pengalaman mereka sendiri.




Ketika Detail Menjadi Bagian dari Arsitektur
Dalam praktik arsitektur, perhatian terhadap detail sering kali dianggap sebagai tahap akhir setelah konsep besar selesai dirancang. Namun, pada beberapa karya Ary Indra, detail justru terasa sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari gagasan utama.
Hal inilah yang kami temukan ketika mengunjungi Masagi Koffee di kawasan Selojene.
Di tengah suasana ruang yang terbuka dan menyatu dengan lanskap, perhatian kami tertuju pada sesuatu yang mungkin terlihat sederhana: sistem utilitas di area meja. Instalasi listrik tidak dibiarkan menjadi elemen tambahan yang mengganggu, tetapi diintegrasikan ke dalam rangka baja meja. Kabel dialirkan melalui struktur tersebut sehingga tetap mudah diakses oleh pengunjung, tanpa menghadirkan kabel yang melintang di lantai atau mengurangi kualitas visual ruang.
Sekilas, keputusan tersebut tampak kecil. Namun, bagi kami, justru di situlah kualitas sebuah rancangan mulai terasa. Pengguna dapat bekerja dengan nyaman, sementara ruang tetap bersih secara visual. Fungsi dan estetika berjalan berdampingan tanpa saling mendominasi.
Tentu saja, satu proyek tidak dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan keseluruhan pendekatan seorang arsitek. Namun, pengalaman di Masagi Koffee memberikan gambaran bahwa perhatian terhadap detail bukan sekadar persoalan teknis. Detail menjadi bagian dari cara sebuah ruang bekerja dan melayani penggunanya.
Pengalaman tersebut mengingatkan bahwa arsitektur yang baik sering kali tidak perlu menunjukkan dirinya secara berlebihan. Ia hadir melalui keputusan-keputusan kecil yang membuat sebuah ruang terasa alami, nyaman, dan mudah digunakan.
Baca Juga : Desain Rumah Modern Tropis yang Menjaga Privasi Tanpa Mengorbankan Cahaya Alami







Dari Aboday ke Selojene: Evolusi Cara Berpikir
Perjalanan Ary Indra juga memperlihatkan bagaimana cara pandangnya terhadap arsitektur terus berkembang.
Pada masa awal Aboday, eksplorasinya banyak terlihat melalui proyek-proyek arsitektur dengan beragam skala dan fungsi. Seiring waktu, ketertarikannya meluas pada hubungan antara ruang, budaya, lanskap, dan kehidupan sehari-hari.
Perkembangan tersebut terlihat jelas melalui Sahabat Selojene. Kawasan ini tidak hanya menghadirkan bangunan, tetapi juga menyatukan arsitektur, seni, pertanian, hospitality, dan aktivitas komunitas dalam satu ekosistem.
Pilihan tersebut menunjukkan bahwa fokus Ary Indra tidak lagi berhenti pada bagaimana merancang bangunan yang baik. Yang lebih penting adalah bagaimana sebuah tempat mampu menghadirkan pengalaman yang membuat orang ingin kembali, berinteraksi, dan membangun hubungan dengan lingkungan di sekitarnya.
Dalam konteks ini, arsitektur dipahami sebagai bagian dari kehidupan yang terus berlangsung. Bangunan hanyalah salah satu elemen. Pengalaman manusialah yang menjadi tujuan akhirnya.

Mengapa Ary Indra Penting bagi Arsitektur Indonesia?
Di tengah perkembangan arsitektur yang semakin dipengaruhi oleh tren visual dan media sosial, pendekatan Ary Indra menawarkan perspektif yang berbeda. Ia menunjukkan bahwa kualitas sebuah karya tidak selalu diukur dari seberapa mudah bangunan tersebut dikenali, melainkan dari seberapa baik ruang tersebut merespons konteks dan kebutuhan penggunanya.
Cara berpikir seperti ini memberi kontribusi penting bagi arsitektur Indonesia. Ia mengingatkan bahwa setiap tempat memiliki karakter yang berbeda sehingga tidak ada satu formula yang dapat diterapkan pada semua proyek. Konteks, budaya, iklim, hingga aktivitas manusia menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses merancang.
Pendekatan tersebut juga memperlihatkan bahwa arsitektur dapat terus berkembang melampaui batas profesinya. Melalui praktik, pendidikan, kurasi, hingga pengembangan kawasan seperti Selojene, Ary Indra menunjukkan bahwa seorang arsitek tidak hanya menciptakan bangunan, tetapi juga membangun cara baru dalam memahami ruang dan kehidupan.

Arsitektur yang Terus Berevolusi
Perjalanan Ary Indra memperlihatkan bahwa seorang arsitek tidak harus berhenti pada satu peran atau satu pendekatan. Dari praktik profesional bersama Aboday, keterlibatannya dalam dunia pendidikan, hingga pengembangan Sahabat Selojene, terlihat bagaimana arsitektur dipahami sebagai disiplin yang terus berkembang mengikuti perubahan cara manusia hidup dan berinteraksi.
Dalam setiap fase tersebut, fokusnya tampak bergeser dari sekadar menciptakan bangunan menuju membangun pengalaman. Ruang tidak lagi dipandang sebagai objek yang berdiri sendiri, melainkan sebagai bagian dari kehidupan yang terus berlangsung. Lanskap, cahaya, material, aktivitas, hingga hubungan antarmanusia menjadi elemen-elemen yang saling melengkapi dalam membentuk kualitas sebuah tempat.
Pendekatan seperti ini menjadi semakin relevan di tengah tantangan kota-kota masa kini. Ketika banyak bangunan berlomba menghadirkan bentuk yang ikonik, Ary Indra justru menunjukkan bahwa arsitektur dapat meninggalkan kesan melalui cara ruang bekerja. Pengalaman pengguna menjadi ukuran yang tidak kalah penting dibandingkan ekspresi visual sebuah bangunan.
Barangkali karena itulah karya-karyanya tidak selalu mudah dikenali hanya dari tampilannya. Namun setelah menggunakannya, orang akan mengingat bagaimana ruang tersebut terasa nyaman, mengalir, dan mendukung aktivitas tanpa banyak menarik perhatian pada dirinya sendiri.









Mengunjungi karya seorang arsitek sering kali memberikan pemahaman yang berbeda dibandingkan melihatnya melalui foto atau gambar. Hal itulah yang kami rasakan ketika berada di Masagi Koffee. Yang membekas bukan hanya suasana ruangnya, tetapi juga perhatian terhadap detail-detail kecil yang membuat tempat tersebut terasa nyaman digunakan.
Pengalaman tersebut menjadi pintu masuk untuk memahami cara berpikir Ary Indra. Baginya, kualitas arsitektur tampaknya tidak hanya lahir dari bentuk yang menarik atau material yang indah, tetapi juga dari keputusan-keputusan yang membuat sebuah ruang mampu bekerja dengan baik bagi penggunanya.
Di tengah perkembangan arsitektur Indonesia yang semakin beragam, pendekatan seperti ini menawarkan sudut pandang yang menarik. Bahwa bangunan tidak selalu perlu tampil paling mencolok untuk meninggalkan kesan. Kadang, justru ruang yang dirancang dengan penuh perhatian terhadap konteks, fungsi, dan pengalaman manusialah yang akan terus diingat.
Mungkin inilah pelajaran terbesar dari perjalanan Ary Indra. Arsitektur bukan hanya tentang apa yang kita lihat ketika memasuki sebuah bangunan, tetapi juga tentang apa yang kita rasakan ketika meninggalkannya.
Membaca Ary Indra dalam Lima Gagasan
📌 Konteks selalu menjadi titik awal.
Setiap proyek memiliki karakter, tantangan, dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu, tidak ada satu formula desain yang dapat diterapkan untuk semua tempat.
📌 Pengalaman pengguna sama pentingnya dengan bentuk bangunan.
Arsitektur yang baik tidak hanya menarik untuk dilihat, tetapi juga nyaman untuk digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
📌 Detail bukan sekadar pelengkap.
Keputusan-keputusan kecil, mulai dari pencahayaan hingga penyelesaian utilitas, dapat membentuk kualitas ruang secara keseluruhan.
📌 Arsitektur dapat berkembang melampaui bangunan.
Melalui berbagai eksplorasinya, Ary Indra menunjukkan bahwa arsitektur juga dapat menjadi medium untuk membangun komunitas, budaya, dan pengalaman.
📌 Ruang yang baik sering kali bekerja tanpa banyak disadari.
Ketika fungsi, material, dan suasana menyatu secara alami, pengguna dapat menikmati ruang tanpa terganggu oleh elemen-elemen yang tidak perlu.

