Close Menu
  • Homes
  • News
  • Tips
  • Info
    • Info Arsitektur
    • Info Interior
    • Info Material
    • Info Struktur
  • Figure
  • Event
  • ID
  • ENG
Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram
gravitarchigravitarchi
Subscribe
  • Homes
  • News
  • Tips
  • Info
    • Info Arsitektur
    • Info Interior
    • Info Material
    • Info Struktur
  • Figure
  • Event
  • ID
  • ENG
gravitarchigravitarchi
Home » 5 Rahasia Rumah Tempo Dulu Terasa Sejuk Tanpa AC
Info

5 Rahasia Rumah Tempo Dulu Terasa Sejuk Tanpa AC

gravitarchiBy gravitarchiNovember 11, 2024Updated:November 11, 2024No Comments3 Mins Read
Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
rumah
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Rumah tempo dulu atau lawas memiliki arsitektur yang khas dan identik dengan hawa yang sejuk meski tanpa AC. Bukan tanpa alasan, arsitektur rumah lawas terutama rumah zaman kolonial Belanda yang menganut langgam arsitektur Indische Style (indis) memang dirancang sedemikian rupa sehingga udara di dalam rumah terasa sejuk.

Ternyata ada beberapa alasan di balik hal tersebut. Sebenarnya apa rahasia rumah tempo dulu terasa nyaman, sejuk, dan menenangkan? Untuk mengetahui jawabannya, simak pembahasan di bawah ini.

Alasan Rumah Tempo Dulu Terasa Sejuk

Rumah tempo dulu mengadopsi arsitektur indis. Arsitektur tersebut mengakomodasi angin dan air sehingga ruangan di dalam rumah terasa sejuk. Style rumah indis juga sangat cocok diterapkan pada iklim tropis Indonesia yang cenderung panas.

Baca juga: Hotel Tertua di Dunia, Arsitektur Tradisional Berusia 1.300 Tahun

Ada beberapa hal yang membuat rumah indis tetap adem tanpa penggunaan AC. Berikut lima alasannya.

1. Plafon Tinggi

Bagian utama yang membuat rumah lawas terasa dingin adalah karena penggunaan plafon tinggi. Atap yang tinggi memungkinkan udara panas bergerak ke atas sehingga ruangan tidak lembap dan ruangan terasa sejuk. Selain itu, rumah juga akan terasa lebih luas.

2. Penggunaan Pintu Krepyak

Arsitektur tropis identik dengan penggunaan pintu krepyak. Pintu ini memiliki lubang angin sehingga memudahkan udara masuk ke dalam rumah. Biasanya bagian atas pintu juga terdapat boven atau jalusi dari kayu yang menyatu dengan kusen pintu.

Baca juga: Rumah Industrial Minimalis 2 Lantai dengan Tambahan Mezzanine

Penempatan pintu sangat diperhitungkan agar angin bergerak masuk mengikuti lorong-lorong rumah. Hal ini juga dikenal dengan istilah pertukaran udara silang atau cross ventilation. Bahkan, rumah tempo lawas juga memiliki connecting door yang menghubungkan satu ruangan dengan ruangan lainnya.

3. Dinding Rumah Tebal

Struktur bangunan memiliki peran penting dalam membuat rumah terasa dingin. Mayoritas rumah era kolonial memiliki ketebalan dinding bata 15 cm hingga 30 cm. Penggunaan dinding yang tebal ini mampu menyimpan panas matahari di siang hari dan melepaskannya di malam hari, sehingga kondisi udara di dalam rumah stabil.

Baca juga: Interior Rumah Industrial dengan Kamar Tidur Mezzanine

4. Bentuk Atap Limasan

Rumah kolonial menggunakan atap limasan atau perisai. Penggunaan atap limasan diadopsi dari bentuk atap rumah tradisional Jawa yang dibuat miring agar ada cukup ruang antara atap da plafon. Selain itu, terdapat dinding pembatas atau parapet yang mengelilingi atap untuk mengurangi beban angin, menyembunyikan material dan peralatan di atap, menambah keindahan rumah, dan mencegah penyebaran kebakaran.

5. Teras

Posisi teras pada rumah tempo dulu berada di depan rumah sebagai ruangan peralihan bagian eksterior dan interior rumah. Secara visual, penambahan teras memberikan kesan mewah. Keberadaan teras mempermudah akses sirkulasi udara dan cahaya matahari. Selain itu, area teras juga bisa digunakan untuk bersantai.

aesthetic arsitektur tropis belanda ruamh adem rumah indis rumah kolonial rumah kuno rumah sejuk rumah tempo dulu
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
gravitarchi
  • Website

Related Posts

Bernard Tschumi dan Ruang yang Terus Bergerak

April 14, 2026

Solar Trees Marketplace — Arsitektur Pasar sebagai Lanskap oleh Koichi Takada

April 7, 2026

Yoyogi National Gymnasium — Struktur Tarik sebagai Strategi Ruang Publik

February 20, 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Demo
Artikel Terbaru

Menuju Jakal Design Week 2026 : Awal Kolaborasi di Koridor Jalan Kaliurang

April 15, 2026

Bernard Tschumi dan Ruang yang Terus Bergerak

April 14, 2026

Belajar Arsitektur Kontekstual dari Eko Prawoto

April 9, 2026

Solar Trees Marketplace — Arsitektur Pasar sebagai Lanskap oleh Koichi Takada

April 7, 2026

Bjarke Ingels dan Pragmatic Utopia : Ketika Arsitektur Menjadi Negosiasi Realitas

April 2, 2026

Yoyogi National Gymnasium — Struktur Tarik sebagai Strategi Ruang Publik

February 20, 2026

Mencatat Ketangguhan Praktik Arsitektur lewat Meeting Marathon YYAF Resilient di Yogyakarta

February 17, 2026
Demo
Demo
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
  • Kontak
  • Tentang Kami
© 2026 gravitarchi, Designed by gravitarchi.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.