Close Menu
  • Homes
  • News
  • Tips
  • Info
    • Info Arsitektur
    • Info Interior
    • Info Material
    • Info Struktur
  • Figure
  • Event
  • ID
  • ENG
Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram
gravitarchigravitarchi
Subscribe
  • Homes
  • News
  • Tips
  • Info
    • Info Arsitektur
    • Info Interior
    • Info Material
    • Info Struktur
  • Figure
  • Event
  • ID
  • ENG
gravitarchigravitarchi
Home » Rumah Tradisional Arab: Berbentuk Kotak Tanpa Genteng
Info Arsitektur

Rumah Tradisional Arab: Berbentuk Kotak Tanpa Genteng

gravitarchiBy gravitarchiJuly 1, 2024No Comments3 Mins Read
Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Keunikan Arsitektur Rumah Tradisonal Arab
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Struktur rumah tradisional Arab didesain selaras dengan budaya, tradisi, dan kondisi lingkungan yang panas dan kering. Pada zaman dahulu, rumah di Arab menggunakan tanah liat dan batu sebagai material utamanya. Kenapa harus tanah liat, ya?

Seperti yang kita tahu, sebagian besar wilayah Arab adalah gurun pasir. Penggunaan tanah liat sebagai bahan utama pembangunan rumah dianggap memiliki ketahanan terhadap cuaca buruk dan mampu memberikan efek dingin di tengah panasnya gurun pasir. Di malam hari, tanah liat dapat menjaga suhu ruangan menjadi lebih hangat.

Baca juga: Kenapa Dinding Kamar Mandi Pakai Keramik? Ternyata Ini Alasannya

Meski demikian, saat ini beberapa wilayah di Timur Tengah sudah beralih menggunakan batako dan batu sebagai bahan utama membuat rumah. Berbeda dengan Indonesia, batako di Arab berukuran lebih besar dan tebal.

Elemen Arsitektur yang Khas

Arsitektur Rumah Tradisonal Arab

Rumah di setiap negara memiliki desain dan struktur menyesuaikan tradisi, iklim, budaya, dan kebiasaan masyarakatnya. Rumah di Indonesia cenderung memiliki teras dengan bukaan yang memungkinkan sinar matahari masuk ke dalam rumah. Sebaliknya, rumah di Arab didesain lebih tertutup.

Beberapa elemen arsitektur yang wajib ada dalam konsep desain rumah Timur Tengah di antaranya majaz (pintu masuk), kombinasi qa’ah (ruang untuk menerima tamu), malqaf (penangkap angin), halaman, dan mashrabiyyah (jendela dengan kisi kayu).

Baca juga: Interior Rumah Modern Kontemporer dengan Konsep Open Space

Ciri Utama Rumah di Arab

Ciri Khas Rumah Tradisonal Arab

Rumah di Arab memiliki tiga lantai, yaitu area bawah tanah untuk tempat penyimpanan sekaligus pengatur suhu udara, lantai dasar untuk area servis, dan lantai paling atas difungsikan untuk area privasi keluarga.

Ciri khas yang paling menonjol pada rumah Arab terletak pada bentuk rumah yang kotak tanpa genteng.  Hal ini merepresentasikan kehidupan yang sederhana dan tenang di tengah lingkungan yang keras.

Bentuk kotak dipilih untuk membantu menjaga suhu ruangan tetap stabil. Sementara atap datar di desain untuk memantulkan panas agar sinar matahari tidak terperangkap di bawah genteng.  Selain itu, terdapat pula ventilasi yang terbuat dari tanah liat, batu, dan kayu.

Baca juga: ZAHA House, Rumah Minimalis dengan Nuansa Teduh di Bantul

Rumah di Arab memiliki desain jendela yang polos berukuran kecil di bagian atas untuk menghindari perhatian orang sekitar. Sementara untuk jendela di dalam ruangan didesain lebih besar dengan motif yang menarik. Hingga saat ini, penggunaan dua tipe jendela ini masih tetap digunakan pada rumah modern dengan desain yang lebih trendy.

Rumah tradisional Arab tidak terlalu berbeda jauh dengan rumah modern, terutama pada penggunaan ornamen kaligrafi, ukiran, bunga, dan lain sebagainya. Rumah tradisional memiliki desain yang polos dan sederhana, sementara desain rumah modern jauh lebih mewah dan canggih. Beberapa desain rumah di Arab bahkan memiliki taman dan air mancur yang besar.

arsitektur Arsitektur Rumah Arab Arsitektur Rumah Tradisional Arab Ciri Khas Rumah Arab Kenapa Rumah Arab Bentuknya Kotak Rumah di Arab rumah tradisional Rumah Tradisional Arab
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
gravitarchi
  • Website

Related Posts

Lattice Garden di Sol Collective: Upcycled Parametric Facade untuk Lanskap Urban yang Lebih Adaptif

December 5, 2025

Stormproof Playground di Shaoxing University : Strategi Desain untuk Perlindungan Iklim Ekstrem

December 2, 2025

Les Choux de Créteil: Ketika Beton “Mekar” Menjadi Arsitektur Puitis di Paris

November 25, 2025
Leave A Reply Cancel Reply

Demo
Artikel Terbaru

Lattice Garden di Sol Collective: Upcycled Parametric Facade untuk Lanskap Urban yang Lebih Adaptif

December 5, 2025

Stormproof Playground di Shaoxing University : Strategi Desain untuk Perlindungan Iklim Ekstrem

December 2, 2025

Mantra 2025: The Biggest Building Material & Architecture Expo in Yogyakarta and Central Java Siap Digelar

November 26, 2025

Les Choux de Créteil: Ketika Beton “Mekar” Menjadi Arsitektur Puitis di Paris

November 25, 2025

Islamic Center of Rijeka, Kroasia : Geometri Lembut dalam Arsitektur Kontemporer

November 19, 2025

Arsitek Indonesia Raih Penghargaan TADA 2025: JS House Menjadi Building of The Year

November 17, 2025

Masjid Saminah Sihyadi, Surakarta: Ekspresi Keteduhan melalui Pendekatan Kontekstual

November 12, 2025
Demo
Demo
Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest
  • Kontak
  • Tentang Kami
© 2025 gravitarchi, Designed by gravitarchi.

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.